Penyakit Penyakit Bulai /Mosaik (Antraknosa) Pada Cabai

Nama Penyakit : Bulai/Mosaik/ pathek pada Cabai

Penyebab Penyakit :

Morfologi Patogen:

Jamur mempunyai banyak aservulus , tersebar, di bawah kutikula atau pada   permukaan, garis tengahnyasampai 100 um, hitam dengan banyak seta.

  1. Seta coklat tua,bersekat, kaku, meruncing ke atas, ukuran 75 – 100 x 2 -6,2 um.
  2. Konidium hialin, berbentuk tabung(silindris)18,6 – 25,0 x3,5 – 5,3 um, ujung ujungnya tumpul, atau bengkok seperti sabit.
  3. Jamur membentuk banyak sklerotium

Sel Penyakit Antaknosa

Gejala Penyakit :

  1. Buah terdapat becak coklat kehitaman yang meluas menjadi busuk lunak.Pada bagian tengah terdapat kumpulan titik hitam konidium jamur.
  2. Serangan yang berat menyebabkan seluruh buah mengering dan buah menjadi keriput. Buah yang seharusnya berwarna merah menjadi berwarna coklat seperti jerami.
  3. Jika cuaca kering jamur biasanya hanya membentuk bercak kecil yang tidak meluas. Tetapi setelah dipetik karena ada kelembaban tinggi saat disimpan dan diangkut maka jamur akan berkembang dengan cepat.

Tanaman Buah Cabai Yang Terkena Penyakit Bulai atau Antraknosa

Daur Penyakit :

  1. Jamur pada buah masuk ke daam ruang biji dan menginfeksi biji. Kelak jamur menginfeksi semai yang tumbuh dari biji buah sakit. Jamur menyerang daun dan batang, kelak dapat menginfeksi buah-buah.
  2. Jamur dapat mempertahankan diri dalam sisa sisa tanaman yang sakit.
  3. Selanjutnya konidium disebarkan oleh angin.

Cara Pengendalian :

  1. Pengendalian penyakit becak daun pada Cabai dikendalikan dengan agens hayati BIO SPF dengan bahan aktif Pseudomonas fluorescent.
  2. Untuk perendaman benih satu sendok (10 gr)  BIO SPF dilarutkan dalam 5 liter air untuk merendam benih  selama 6
  3. Selanjutnya aplikasi dilakukan saat tanaman berumur 2 minggu dengan penyemprotan pada daerah perakaran cabai. Tiga sendok (33 gr) BIO SPF dicampur dengan 14 liter air dan disemprotkan pada perakaran cabai.Lahan seluas 1000 m2 diperlukan BIO SPF 1 sachet isi 100 gr.

Penyemprotan dilakukan pada sore hari agar agens hayati tidak terganggu UV (ultra violet) dari sinar matahari.

Pustaka :

1Semangun., H.(1989), Penyakit Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia, 1989, Gadjahmada University Press, Yogyakarta, 850 hlm , halaman 52.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *