Hama Tikus Sawah (Rattus argantiventer)

 

Hama Tikus Sawah (Rattus argantiventer)

(Rodentia, Muridea)

Tanaman Inang :

Padi, Kacang tanah, Kedelai, Ketela Pohon, Jagung, Ubi  jalar, Tebu.

Gejala Serangan:

1  Menyerang di pesemaian, masa vegetatif, masa generatif, masa panen, dan tempat penyimpanan.

  1. Bagian tumbuhan yang diserang tidak hanya biji-bijian atau umbi tetapi juga batang tumbuhan muda.
  2. Serangan pada tanaman padi pada vase vegetatif tanaman banyak yang roboh dan rusak. Pada serangan hebat di tengah petak tidak ada tanaman.

Biologi Hama:

1Tikus sawah mempunyai morfologi yang berbeda dengan tikus rumah, maupun tikus pohon.

2.Ukuran tubuh dewasa 16 – 22 cm dengan berat tubuh 100 – 230 gr.

3.Ekor tikus sawah hampir sama atau lebih pendek dibanding kepala dan tubuh.

4.Puting susu berjumlah 12.

5.Bagian dorsal berwarna coklat dengan bercak hitam pada rambut rambutnya.

6.Sisi bagian perut berwarna putih perak – abu-abu.

7.Tikus betina  siap kawin pada umur 28 hari, bunting pada umur 40 hari.

8.Betina bunting selama 21 hari dan menyusui selama 21 hari.

9.Tikus sekali beranak bisa10 ekor dengan perbandingan 5 ekor jantan dan 5 ekor betina.

10.Tikus bisa hidup dalam beberapa tahun.

11.Tikus membuat sarang di dalam tanah dengan lubang-lubang di  tanggul  irigasi, pematang besar, tanggul jalan, dan batas sawah dengan perkampungan.

Cara Pengendalian:

1Membongkar dan menangkap tikus secara masal pada hamparan yang luas  (gropyokan) pada areal sawah.

  1. Melindungi persemaian dengan memasang pagar plastik dan memasang 2 bubu perangkap untuk persemaian ukuran 10 x 10 m2.
  2. Menanam tanaman secara bersamaan agar dapat menuai dalam waktu yang bersamaan pula sehingga tidak ada kesempatan bagi tikus untuk mendapatkan makanan setelah tanaman dipanen.
  3. Menggunakan racun alami dengan memasang umpan beracun, yaitu irisan ubi gadung yang masih segar. Selain racun alami berupa umbi gadung bisa juga menggunakan pengusir tikus dengan buah bintaro dan buah mengkudu.
  1. Pengendalian dengan Trap barrier System (TBS), yaitu dengan memasang pagar plastik sebagai penghambat tikus masuk area tanam dan diberi jalan masuk dengan dipasang bubu perangkap. Trap barrier system sangat efektif apabila dilakukan secara kelompok dalam sekala yang luas dengan dikombinasi dengan Linier Trap Barrier System (LTBS).
  1. Menggunakan musuh alami tikus, yaitu ular Phyton atau burung hantu (Tyto alba). Burung hantu dibesarkan dalam penangkaran dan diberi kesempatan untuk menangkap tikus di areal sawah. Untuk membantu burung hantu mengintai tikus ditengah hamparan sawah dibutkan rumah singgah burng hantu seperti sarang burung dara.

 

Pustaka :

1.Kalshoven, LGE, Pest of Crops in Indonesia, Jakarta, 1981, 701 p, halaman 620..

2.Aggara, A.W.,Biologi dan Ekologi Tikus Sawah, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi, Subang.

 

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *