Budidaya Bawang Putih (Allium sativum) – Bag VI : Hama dan Penyakit Utama pada Bawang Putih

ulat spodoptera exigua yang mendekam dan memakan pada daun bawang

ulat spodoptera exigua yang mendekam dan memakan pada daun bawang

Berikut ini hama dan penyakit utama pada budidaya bawang putih

Hama Ulat Bawang (Spodoptera exigua)

Bagian tanaman yang terserang terutama daunnya, baik daun pada tanaman yang masih muda ataupun yang sudah tua. Telur diletakkan pada pangkal dan ujung daun bawang putih merah secara berkelompok, maksimal 80 butir. Telur dilapisi benang-benang putih seperti kapas. Setelah menetas dari telur, ulat muda segera melubangi bagian ujung daun lalu masuk ke dalam daun bawang, akibatnya ujung daun nampak berlubang/ terpotong. Ulat akan menggerek permukaan bagian dalam daun, sedang epidermis luar ditinggalkannya. Akibat serangan tersebut daun terlihat menerawang tembus cahaya atau terlihat bercak-bercak putih, akhirnya daun menjadi terkulai.

Larva atau ulat muda berwarna hijau dengan garis-garis hitam pada punggungnya. Ulat tua mempunyai beberapa variasi warna, yaitu hijau, coklat muda dan hitam kecoklatan. Ulat yang hidup di dataran tinggi umumnya berwarna coklat.

Pengendalian :

  • Pengendalian mekanis, dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur dan ulat bawang. Masukkan dalam kantong plastik, diikat dan kemudian dimusnahkan.
  • Pengendalian secara hayati dengan penyemprotan pestisida organik berbahan aktif Beuveria bassiana. Salah satu agens hayati ini misalnya MOSA BN . Agens Hayati ini dilarutkan dalam tanki semprot, dan disemprotkan ke pada sore hari pada lokasi-lokasi tanaman yang menjadi tempat bersarangnya hama tersebut. Penyemprotan secara berkala sangat dianjurkan untuk memutus siklus hama. (Lihat pengendalian hama ulat dengan agens hayati beuveria bassiana)
  • Pengendalian secara nabati misalnya dengan membuat pestisida berbahan daun pepaya. Cara ini bisa dilakukan untuk pengendalian yang sifatnya sementara, mengingat pestisida nabati buatan sendiri biasanya tidak dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama. (Lihat cara membuat pestisida nabati sendiri)
  • Pengendalian secara kimia adalah jalan terakhir. Apabila hasil pengamatan telah mencapai atau melampui 1 kelompok telur/10 rumpun contoh atau 5 % daun terserang/rumpun contoh (pada musim kemarau) atau 3 kelompok telur/10 rumpun contoh atau 10 % daun terserang/rumpun contoh (pada musim penghujan) dapat diaplikasi dengan insektisida yang diizinkan.

Hama Thrips

Hama ini mulai menyerang umur 30 HST karena kelembaban di sekitar tanaman relatif tinggi dengan suhu rata-rata diatas normal.  Daun bawang yang terserang warnanya putih berkilat seperti perak.  Serangan berat terjadi pada suhu udara diatas normal dengan kelembaban diatas 70%. Jika ditemukan serangan, penyiraman dilakukan pada siang hari, amati predator kumbang macan.

Pengendalian: Untuk pengendalian hama ini bisa dilakukan cara seperti disebutkan diatas

  • Pengendalian secara hayati dengan penyemprotan pestisida organik berbahan aktif Beuveria bassiana. Salah satu agens hayati ini misalnya MOSA BN . Agens Hayati ini dilarutkan dalam tanki semprot, dan disemprotkan ke pada sore hari pada lokasi-lokasi tanaman yang menjadi tempat bersarangnya hama tersebut. Penyemprotan secara berkala sangat dianjurkan untuk memutus siklus hama. (Lihat pengendalian hama ulat dengan agens hayati beuveria bassiana)
  • Pengendalian secara nabati misalnya dengan membuat pestisida berbahan daun pepaya. Cara ini bisa dilakukan untuk pengendalian yang sifatnya sementara, mengingat pestisida nabati buatan sendiri biasanya tidak dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama. (Lihat cara membuat pestisida nabati sendiri).

Penyakit layu fusarium (Jawa : Ngoser)

Gejala serangan layu fusiarium pada tanaman bawang putih

Gejala serangan layu fusiarium pada tanaman bawang putih

Penyakit ini akan memunculkan daun bawang menguning, tanaman layu dengan cepat (Jawa : ngoser). Gejala umum dari serangan penyakit ini terlihat tenaman menguning (seperti menua sebelum waktunya). Ujung daun tanaman yang terinfeksi berubah menjadi kuning kemudian coklat saat gejalanya mengarah ke bawah menuju umbi. Kadang-kadang perubahan warna kemerahan dapat muncul pada selubung umbi tanaman bawang putih yang sangat terinfeksi di awal musim.

Penyebab : Fusarium sp

Penyakit layu ini disebabkan oleh jamur tular tanah Ada banyak penyakit jamur tular tanah pada bawang putih dengan gejala berbeda yang disebabkan oleh spesies dari genus Fusarium. Tetapi Petani bawang putih akrab dengan ngoler (busuk umbi). Penyakit ini disebabkan oleh Fusarium proliferatum, Fusarium culmorum & Fusarium oxysporum. Layu Fusarium menyerang umbi dari bawah ke atas, mirip dengan busuk putih, tetapi berlangsung lebih lambat dan tidak mengembangkan sklerotia yang menjadi ciri khas pada pada busuk putih.

Memutus Siklus Penyakit :

Pengendalian :

  • Menanam varietas bawang yang tahan terhadap penyakit ini.
  • Tanaman yang terserang dicabut lalu dikumpulkan untuk dibakar.
  • Pengendalian dengan pemberian agens hayati berbahan aktif Thrichoderma sp dan Gliocladium sp. (Lihat Manfaat Thrichoderma untuk agens hayati) Salah satu formulasi agens hayati ini adalah MOSA GLIO . Caranya 1 sachet (100gr) MOSA GLIO  di campur kompos jadi 25–50kg, didiamkan 1 minggu untuk kemudian disebar di bedengan seluas 1000 m2.(Lihat cara aplikasi agens hayati MOSA GLIO)

Penyakit Bercak Ungu atau Trotol

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Alternaria porii melalui umbi atau percikan air dari tanah. Terdapat bintik lingkaran konsentris berwarna ungu atau putih-kelabu di daun, tepi daun kuning serta mengering ujung-ujungnya. Serangan pada umbi sehabis panen mengakibatkan umbi  busuk sampai berair dengan warna kuning hingga merah kecoklatan. Jika hujan rintik-rintik segera lakukan penyiraman.

Sama seperti disebutkan diatas, karena serangan penyakit ini dari jenis jamur, sangat dianjurkan untuk memutus siklus penyakit serta pengendalian secara hayati.

Memutus Siklus Penyakit :

Pengendalian :

  • Menanam varietas bawang yang tahan terhadap penyakit ini.
  • Tanaman yang terserang dicabut lalu dikumpulkan untuk dibakar.
  • Pengendalian dengan pemberian agens hayati berbahan aktif Thrichoderma sp dan Gliocladium sp. (Lihat Manfaat Thrichoderma untuk agens hayati) Salah satu formulasi agens hayati ini adalah MOSA GLIO . Caranya 1 sachet (100gr) MOSA GLIO  di campur kompos jadi 25–50kg, didiamkan 1 minggu untuk kemudian disebar di bedengan seluas 1000 m2.(Lihat cara aplikasi agens hayati MOSA GLIO)

Penyakit Antraknose atau Otomotis

Penyakit ini disebabkan jamur Colletotricum gloesporiodes. Terbentuk bercak putih pada daun dan lekukan, menyebabkan patahnya daun secara serentak (otomatis). Tanaman terserang dicabut dan dimusnahkan.

Pengendalian & Pencegahan :

  • Sebelum tanam umbi direndam dengan agens hayati yang berbahan mikrobia endofit, eksofit & antagonis. agens hayati jenis ini juga dikenal dengan PGPR (Plant Promoting Rizobacter). Salah satu merk PGPR yang dianjurkan adalah BIO-SPF.  Caranya, 1 sendok (5 – 10 gram) BIO-SPF dilarutkan dalam 5 liter air untuk merendam bibit umbi bawang putih selama ±15 menit (Lihat manfaat perendaman benih dengan BIO-SPF)
  • Selanjutnya pemberian agens hayati juga dilakukan untuk perawatan tanaman. kira-kira umur 2 minggu dilakukan penyiraman dengan agens hayati yang berbahan  aktif Trichoderma sp serta PGPR. Untuk agens hayati berbahan Trichoderma ini misalnya MOSA GLIO.  Contoh aplikasinya; 1 sachet (100 gr) BIO SPF + 1 sachet (100gr) MOSA GLIO dilarutkan dengan ±50 liter air. Larutan tersebut digunakan untuk 1000 m 2 tanaman bawang putih.

Penyakit oleh virus

Pertumbuhan kerdil, daun menguning, melengkung ke segala arah, terkulai serta anakannya sedikit. Pergunakan bibit bebas virus dan pergiliran tanaman selain golongan bawang-bawangan.

Pegendalian :

  • Penyemprotan pupuk organik dengan kandungan asam amino seperti AGRITECH dimungkinkan akan meningkatkan daya tahan tanaman dari serangan penyakit ini.
  • Apabila serangan terlanjur parah, pengendalian dapat menggunakan pestisida nabati Pengendalian dengan dengan bahan aktif Hidroksi Benzoat dan ZnO. Bahan tersebut diekstrak dari tanaman tertentu.
  • Pemupukan dengan unsur N tinggi pada tanaman sebaiknya dihentikan.
  • Alternatif terakhir dengan penggunaan pestisida kimia. Gunakan sesuai dosis dan anjuran.

Pencegahan :

  • Vektor dari virus dimungkinkan dibawa oleh serangga dari jenis trips. Sehingga  untuk pencegahan perlu mengendalikan kemunculan trips sebagai vektor virus. Untuk mengendalian trips dapat dilihat dari bagian pengendalian hama trips yang disebutkan diatas.
  • Langkah pencegahan juga dilakukan sebelum tanam. Sebelum tanam umbi direndam dengan agens hayati yang berbahan mikrobia endofit, eksofit & antagonis. agens hayati jenis ini juga dikenal dengan PGPR (Plant Promoting Rizobacter). Salah satu merk PGPR yang dianjurkan adalah BIO-SPF.  Caranya, 1 sendok (5 – 10 gram) BIO-SPF dilarutkan dalam 5 liter air untuk merendam bibit umbi bawang putih selama ±15 menit (Lihat manfaat perendaman benih dengan BIO-SPF)
  • Selanjutnya pemberian agens hayati juga dilakukan untuk perawatan tanaman. kira-kira umur 2 minggu dilakukan penyiraman agens hayati PGPR ini. Contoh aplikasinya; 1 sachet (100 gr) BIO SPF dilarutkan dengan ±50 liter air. Larutan tersebut digunakan untuk 1000 m 2 tanaman bawang putih.

Penyakit Busuk bakteri

Umbi jadi busuk dan berbau. Biasa menyerang setelah dipanen.

Usahakan disimpan di tempat yang kering.

Pengendalian & Pencegahan :

  • Sebelum tanam umbi direndam dengan agens hayati yang berbahan mikrobia endofit, eksofit & antagonis. agens hayati jenis ini juga dikenal dengan PGPR (Plant Promoting Rizobacter). Salah satu merk PGPR yang dianjurkan adalah BIO-SPF.  Caranya, 1 sendok (5 – 10 gram) BIO-SPF dilarutkan dalam 5 liter air untuk merendam bibit umbi bawang putih selama ±15 menit (Lihat manfaat perendaman benih dengan BIO-SPF)
  • Selanjutnya pemberian agens hayati juga dilakukan untuk perawatan tanaman. kira-kira umur 2 minggu dilakukan penyiraman dengan agens hayati yang berbahan  aktif Trichoderma sp serta PGPR. Untuk agens hayati berbahan Trichoderma ini misalnya MOSA GLIO.  Contoh aplikasinya; 1 sachet (100 gr) BIO SPF + 1 sachet (100gr) MOSA GLIO dilarutkan dengan ±50 liter air. Larutan tersebut digunakan untuk 1000 m 2 tanaman bawang putih.

Busuk umbi/ leher batang oleh jamur

Bagian yang terserang jadi lunak, melekuk dan berwarna kelabu. Jaga agar tanah tidak terlalu becek (atur drainase).

Memutus Siklus Penyakit :

Pengendalian & Pencegahan :

Pengendalian gejala penyakit ini perlu digunakan agens hayati baik yang berupa PGPR (berbahan mikrobia endofit, eksofit & antagonis) maupun jamur antagonis (misalnya ; thrichoderma sp).

  • Sebelum tanam umbi direndam dengan agens hayati yang berbahan mikrobia endofit, eksofit & antagonis. agens hayati jenis ini juga dikenal dengan PGPR (Plant Promoting Rizobacter). Salah satu merk PGPR yang dianjurkan adalah BIO-SPF.  Caranya, 1 sendok (5 – 10 gram) BIO-SPF dilarutkan dalam 5 liter air untuk merendam bibit umbi bawang putih selama ±15 menit (Lihat manfaat perendaman benih dengan BIO-SPF)
  • Selanjutnya pemberian agens hayati juga dilakukan untuk perawatan tanaman. kira-kira umur 2 minggu dilakukan penyiraman dengan agens hayati yang berbahan  aktif Trichoderma sp serta PGPR. Untuk agens hayati berbahan Trichoderma ini misalnya MOSA GLIO.  Contoh aplikasinya; 1 sachet (100 gr) BIO SPF + 1 sachet (100gr) MOSA GLIO dilarutkan dengan ±50 liter air. Larutan tersebut digunakan untuk 1000 m 2 tanaman bawang putih.

 

 

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.