Solarisasi, Sebagai Alternatif Pengendalian Penyakit Tular Tanah Ramah Lingkungan

solarisasi tanah

solarisasi tanah

Solarisasi tanah merupakan salah satu metode ramah lingkungan untuk mengendalikan penyakit menggunakan bantuan sinar matahari untuk meningkatkan suhu tanah ke derajat di mana banyak patogen tular tanah akan mati atau menjadi sangat lemah. Solarisasi tanah dapat melemahkan dan membunuh jamur, bakteri, nematoda,hama serangga dan tungau bersama dengan gulma di tanah. Metode yang diterapkan umumnya dengan membuat bedengan dan menutupinya dengan mulsa/terpal untuk memerangkap energi matahari.

Solarisasi tanah tergantung pada waktu, suhu, dan kelembaban tanah. Dalam arti lain, solarisasi ini sebagai metode dekontaminasi tanah dengan menggunakan sinar matahari. Energi panas ini tentunya menyebabkan perubahan fisik, kimia, dan biologis tanah.

Manipulasi lingkungan tanah sekitar perakaran melalui solarisasi tanah ini merupakan cara pengendalian yang potensial. Patogen tular tanah yang terdiri dari berbagai jenis jamur, bakteri, nematoda, dan virus adalah mikroba penghuni tanah (soil inhabitant), yang hidup dan berkembang biak dalam tanah.  Pelaksanaan solarisasi diwujudkan dalam bentuk tindakan pemulsaan tanah menggunakan plastik transparan polietilen (PE) yang tembus sinar matahari.

Suhu tinggi dalam tanah merupakan faktor penting dalam proses solarisasi. Mulsa plastik dapat meningkatkan suhu hingga mencapai 35−60°C terutama di tanah bagian permukaan. Warna plastik mempengaruhi tingginya suhu yang dicapai pada proses solarisasi. Plastik hitam dan plastik reflektif yang memantulkan sinar matahari sebaiknya dihindari sebab keduanya memberi efek panas hanya di permukaan tanah. Warna plastik yang kurang baik hingga yang terbaik karena mudah ditembus sinar matahari berturut-turut adalah hitam, biru, kuning, hijau, merah, dan transparan. Plastik transparan dapat ditembus radiasi matahari dengan persentase sangat tinggi, 85−95% . Selain meningkatkan suhu tanah, mulsa plastik juga mampu menjaga kelembaban tanah, di sisi bawah plastik terbentuk banyak embun yang berguna untuk perbaikan pertumbuhan tanaman.

Manfaat solarisasi tanah

Gambar pengaruh lamanya solarisasi terhadap pertumbuhan tanaman

Keefektifan teknik pengendalian melalui solarisasi tanah dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan satu sama lain seperti lokasi geografis, kondisi iklim, tipe tanah, tebal lapisan olah tanah, kelembaban tanah, lamanya waktu solarisasi, patogen sasaran pengendalian, dan jenis mulsa plastik yang berkaitan dengan suhu yang dicapai pada proses solarisasi. Kondisi permukaan tanah yang rata dan remah dapat mencegah kerusakan plastik (robek) selama periode solarisasi. Tanah yang memiliki cukup air, tidak menggenang atau tidak berlumpur, merupakan kondisi terbaik pada proses solarisasi. Air berperan penting pada transfer panas ke bagian tanah yang lebih dalam. Solarisasi tanah pada kondisi pemanasan basah (tanah lembab) lebih efektif mengendalikan penyakit tular tanah daripada kondisi pemanasan kering (Shlevin et al. 2004).

Solarisasi tanah selama 30 hari sebelum tanam cukup efektif untuk pengendalian berbagai patogen penyebab penyakit. Penggunaan mulsa plastik untuk pembibitan dapat menurunkan indeks penyakit dan meningkatkan produksi dibandingkan dengan tanpa perlakuan solarisasi. Beberapa Solarisasi tanah lebih efektif mengendalikan patogen terutama yang menyerang pada fase pra dan pasca kecambah. Beberapa jenis patogen dapat dikendalikan dengan solarisasi, terutama yang sensitif suhu tinggi di antaranya adalah aneka jamur penyebab tanaman layu seperti Verticillium sp., Fusarium oxysporum, Sclerotium sp., Pythium spp., Rhizoctonia solani, dan Phytophthora sp., nematoda (Pratylenchus dan Xiphinema), serta beberapa bakteri seperti Agrobacterium, Clavibacter sp., dan Streptomyces. Virus tanaman kebanyakan sulit dikendalikan dengan solarisasi terutama jenis virus termofil yang tahan panas (suhu tinggi 70°C), misalnya pada virus mosaik mentimun CMV (cucumber mosaic virus) dan virus mosaik tembakau TMV (tobacco mosaic virus). Kedua virus tersebut memiliki banyak jenis tanaman inang, salah satunya adalah kacang tanah. Bakteri tertentu sulit dikendalikan dengan solarisasi tanah, misalnya Ralstonia solanacearum penyebab penyakit layu yang sangat merugikan pada tanaman sayuran, hias, dan kacang tanah. Nematoda Meloydogyne incognita dan jamur Macrophomina sp., juga sulit dikendalikan dengan solarisasi tanah. Solarisasi tanah tidak berpengaruh buruk terhadap mikroorganisme risosfer yang berguna sebagai agens pengendali hayati (APH) seperti Bacillus, Actinomycetes, Mikoriza, Trichoderma dan Penicillium, bahkan solarisasi tanah dapat meningkatkan peran APH risosfer kompeten tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut diatas diketahui bahwa perlindungan tanaman dengan solarisasi tanah terjadi melalui dua proses yaitu :

  1. Pengaruh langsung, radiasi sinar ultra violet dan panas matahari memiliki pengaruh letal pada patogen tertentu. Ketidakmampuan patogen hidup pada suhu tinggi berkaitan dengan kerusakan membran sel yang pada suhu tinggi terjadi inaktivasi enzim respirasi berkelanjutan, dan ini dapat mengganggu infeksinya pada tanaman.
  2. Pengaruh tidak langsung, selama proses solarisasi terjadi perubahan fisik, kimia, dan biologis tanah termasuk aktifnya APH dan mikroorganisme dekomposer dalam tanah. Selain itu, suhu tinggi memicu munculnya senyawa volatil yang bersifat racun pada patogen.
Bagikan :

2 Respon

  1. Wahyu darminto berkata:

    mantap dan sangat bagus uraian dan pembahasannya tentang patogen tular tanah serta cara pengendaliannya terutama untuk Fusarium seperti di lahan saya / bawang merah umur 13 hari , trima kasih banyak dan salam hangat petani,tetap semangat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.