Gejala Pembusukan Pangkal Batang pada Tanaman Padi

Gejala akan nampak pada tanaman padi yang sudah tuaberupa bercak nekrotik  pada upih daun sebelah luar dekat dengan permukaan air. Bercak meluas ke upih sebelah dalam dan pangkal batang. Bercak berwarna gelap timbul dan lambat laun melebar tergantung pada ketahanan daripada varietas. Kemudian cendawan menembus sampai kebatang. Menjalarnya sampai kebatang padi yang bersamaan dengan membusuknya seludang daun akan memperlemah batang padi dan rebah. Bila batang rebah sebelum masak, hasil akan merosot, karena gabahnya tidak berkembang dengan baik dan menuainya menjadi lebih sukar. Tanaman bisa rebah pada saat malai masak. Kerusakan pada pangkal batang dapat menyebabkan sebagian biji hampa, buliran padi ringan dan menjadi beras kapur.

Gejala pembusukan pangkal batang tanaman padi ini dimungkinkan karena serangan cendawan clerotium oryzae Catt. Istilah lain yang populer dari gejala serangan penyakit ini adalah rebah kecambah, jamur akar merah, busuk pangkal batang padi.

 

Nama Penyakit : Busuk batang pada padi (Sclerotium oryzae Catt.)

Penyebab Penyakit : Jamur mempunyai tiga stadium yaitu ;

  1. Stadium sklerotium : Sclerotium oryzae
  2. Stadium konidium : Nakataea sigmoidea (Cav.) Hara.
  3. Stadium seksual : Magnaporthe salvinii (Catt.) Krause et Wber

Penyakit busuk batang adalah penyakit yang ditimbulkan oleh cendawan, utamanya adalah sclerotium oyzae. Penularan biasanya terjadi dekat pada permukaan air melalui bagian yang patah atau luka.

Morfologi Patogen:

Koloni cendawan berwarna hitam dengan miselium yang sebagian besar berada di dalam jaringan tanaman. Cendawan membentuk sklerotium berbentuk agak bulat dan berwarna hitam. Pada Stadium ini disebut  jamur :  Sclerotium oryzae Catt.

busuk batang sclerotia oryzae

Bercak berwarna gelap timbul dan lambat laun melebar. Benda-benda kecil dan kotor yang ditemui pada lapisan pelepah daun dan pangkal batang adalah tempat berkembangbiknya jamur scleroria.

Pada stadium konidium  jamur diberi nama: Nakataea sigmoidea. Konidium dibentuk pada ujung atau dekat ujung konidiofor. Konidiofor sedikit atau tidak bercabang, warna coklat, halus, bersekat. Konidium bersekat 3, panjang 40 – 83 um, dengan bagian terlebar 11 – 14 um. Sel sel ditengah coklat pucat.

Pada stadium seksual jamur diberi nama : Magnoporthe salvinii. Peritesium gelap, bulat, di dalam upih daun yang sebelah luar, garis tengah 250 – 650 u, panjang termasuk leher 500 – 1100 um. Askus panjang seperti tabung, berdinding tipis, bertangkai pendek, 104 – 165 x 8,7 – 17,4 um, berisi 8 askospora. Askospora membentuk dua barisan, agak terpilin, bersekat 3, agak melengkung pada sekat, 35 -65 x 8,7 um, berbentuk kumparan, bengkok.

Daur Penyakit :

Infeksi jamur Sclerotium rolfsii pada upih daun tanaman padi dibantu adanya luka. Konidium banyak terdapat di udara pada siang hari.Pemencaran penyakit terjadi karena sklerotium terbawa air. Batang yang berlobang karena penggerek merupakan tempat masuk yang ideal bagi cendawan penyebab penyakit. Benda-benda kecil dan kotor pada selubung daun dan pangkal batang adalah tempat tinggal cendawan yang sedang dorman/beristirahat. Sehingga hal tersebut bisa dapat ditemui pada jerami setelah panen. Pembakaran jerami dan tunggul jerami akna membantu mengurangi jumlah cendawan sclerotia yang masih hidup di sawah.

Cara Pengendalian :

  • Pengendalian secara fisik bisa dengan cara pengeringan petakan dan biarkan tanah hingga retak sebelum dialiri lagi. Di samping itu tunggul-tunggul padi sesudah panen harus dibakar atau didekomposisi.
  • Pengendalian secara biologis dengan memanfaatkan agen hayati. Agen hayati adalah agen biokontrol yang beragam – seperti bakteri, jamur, virus – ada di alam. Diantaranya bakteri antagonis yang memiliki kemampuan untuk melindungi tanaman padi dari berbagai penyakit. Khusus untuk penyakit busuk batang padi akibat infeksi jamur Sclerotium sp ini dengan pemanfaatkan agens bio control ; Pseudomonas fluorescensPseudomonas aeruginosaBacillus subtilis dan Bacillus pumilus.
  • Diantara biokontrol dengan agens hayati yang disebutkan diatas, terdapat dalam formulasi PGPR (Plant Growth Promoting Rizobacter). Salah satu yang terdapat di pasaran misalnya BIO-SPF yang mengandung bahan aktif Pseudomonas flourescens, Bacillus sp dan lain-lain. Penggunaan agens hayati ini diberikan semenjak perendaman benih dan untuk perawatan tanaman misalnya dengan disemprotkan pada pangkal batang.

Sumber :

Biological Control of Rice Diseases – IRRI

Diagnosis of Common Diseases of Rice – IRRI

Bagikan :

3 Respon

  1. Anonim berkata:

    Obatnya apa sih

  2. mosamandiri berkata:

    Mungkin bisa disimak lagi untuk informasinya pak. pada bagian cara pengendalian untuk obat yang bapak maksud sebagai berikut ;
    Diantara biokontrol dengan agens hayati yang disebutkan diatas, terdapat dalam formulasi PGPR (Plant Growth Promoting Rizobacter). Salah satu yang terdapat di pasaran misalnya BIO-SPF yang mengandung bahan aktif Pseudomonas flourescens, Bacillus sp dan lain-lain. Penggunaan agens hayati ini diberikan semenjak perendaman benih dan untuk perawatan tanaman misalnya dengan disemprotkan pada pangkal batang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.