Penyakit Darah Pada Pisang

Ciri-ciri bonggol pisang terkena penyakit layu bakteri atau penyakit darah

Ciri-ciri bonggol pisang terkena penyakit layu bakteri atau penyakit darah

Penyakit darah disebut juga penyaki Moko Desease atau Layu bakteri

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Ralstonia (Pseudomonas) solanacearum pv. Celebensis

Gejala :

Bakteri menyerang pembuluh batang melalui akar dan mengeluarkan zat beracun hingga pembuluh tersebut mengeluarkan cairan berwarna merah seperti kecap/darah. Apabila pada batang terdapat luka, maka cairan merah akan keluar melalui luka tersebut. Adakalanya cairan keluar bersamaan dengan keluarnya jantung pisang.

Gejala pada tajuk, baru tampak setelah timbulnya tandan buah. Mula-mula satu daun muda berubah warna, dari ibu tulang daun keluar garis coklat kekuningan ke tepi daun. Dalam jangka satu minggu semua daun menguning dan menjadi coklat. Penularan atau infeksi dapat terjadi melalui pelukaan mekanis dan penularan melalui serangga.

penyakit layu bakteri pada pisang yang menyebabkan gejala busuk pada buah pisang

penyakit layu bakteri pada pisang yang menyebabkan gejala busuk pada buah pisang

Gejala pada buah akan nampak seperti foto diatas, gejalanya agak lambat. Umumnya buah hampir menyelesaikan proses pemasakan, kemudian tampak seperti dipanggang berwarna kuning coklat, layu dan busuk. Buah yang terserang isinya terlarut sedikit demi sedikit dan berisi cairan seperti lendir berwarna merah kecoklatan yang mengandung sangat banyak bakteri.

Masuknya bibit penyakit terjadi apabila bakteri penyebab penyakit tersebut masuk ke dalam pembuluh tanaman yang mengalami pelukaan, atau melalui penularan oleh serangga atau alat alat pertanian. Sedangkan masuknya melalui melalui batang jarang terjadi. Bakteri dapat bertahan dalam tanah dan mempertahankan virulensinya selama ± setahun. Penyakit dapat menular melalui parang yang digunakan waktu menebang pisang, membersihkan batang atau memotong bunga jantan/anakan pisang. Penularan dapat terjadi juga karena pemakaian tunas dari rumpun yang sakit sebagai bibit.
Penyakit juga dapat menular melalui udara dan menginfeksi buah-buah yang dapat dilakukan oleh serangga. Bakteri yang terbawa ke kepala putik pada saat pembuahan dapat mencapai buah melalui saluran tangkai putik.

Pengendalian :
Cara kultur teknis & mekanis;

  • Pemberian pupuk organik (kompos, pupuk kandang); Penjarangan anakan; dipotong (setelah 30 cm) ±5 cm dari titik tumbuh; Rotasi dengan tanaman bukan inang; Pembuatan drainase, sanitasi lingkungan pertanaman; Menghindari terjadinya luka pada akar; Menggunakan benih sehat (bukan dari daerah serangan atau rumpun terserang; menggunakan benih dari kultur jaringan) atau benih baru setiap musim tanam; Sistem pindah tanam setelah tiga kali panen, maksimal 3 tahun; Pengapuran atau abu.
  • Lakukan sanitasi lahan yaitu disarankan tidak melakukan tumpang sari atau menanam pisang di lahan bekas pertanaman tomat, jahe, terung, rimbang/tekokak, meniran, leunca dan kelompok tomat-tomatan lainnya. Tanaman-tanaman tersebut diduga menjadi inang sementara bakteri R solanacearum.
  • Membuat drainase di kebun
  • Pengendalian serangga penular: ulat penggulung daun Erionata thrax L. Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis. Serangga lainnya yang diduga sebagai perantara adalah Chloropidae, Platypezidae dan Drosophilidae.
  • Pemakain jenis pisang tahan seperti; Pisang Raja Kinalun dengan nama lokal pisang Perancis, atau pisang Sepatu Amora yaitu sejenis pisang kepok yang tidak mempunyai jantung, sehingga terhindar dari penyakit layu bakteri yang disebarkan oleh serangga.
  • Pembungkusan buah dengan plastik transparan untuk menghalangi kedatangan serangga penular. Dilakukan saat keluar jantung atau paling lama saat sisir pertama muncul.
  • Jangan membawa atau memindahkan bahan tanaman (bibit) dari lokasi yang telah terserang ke lokasi/daerah yang masih bebas penyakit.
  • Memusnakna rumpun pisang terserang dengan membongkar sampai ke akar-akarnya, lalu dipotong-potong, dimasukkan dalam kantong plastik, diberi formalin, dan ditutup rapat. Potong bunga jantan segera setelah sisir terakhir terbentuk, untuk menghindari infeksi serangga penular; Kondomisasi terhadap bunga.

Cara biologi hayati

  • Pemanfaatan agens antagonis seperti Pseudomonas fluerescens, Bacillus subtilis. (Entomopatogen), dengan atau tanpa kompos. Istilah lain dari jenis bakteri ini adalah PGPR (Plant Growth Promoting Rizobacter). Salah satu formulasi yang sudah ada dipasaran misalnya BIO-SPF. Formulasi BIO-SPF ini dalam bentuk serbuk kemasan 100gr. Penggunaan PGPR atau misalnya dalam hal BIO-SPF adalah dengan metode dikocorkan di pangkal batang dan juga perendaman bibit untuk antisipasi penyakit sejak dini.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *