Pedoman Budidaya Buncis – Bag VI ; Hama dan Penyakit Utama pada Tanaman Buncis

Batang tanaman yang terkena penyakit layu

Batang tanaman yang terkena penyakit layu

Ada sekitar 7 hama dan 11 penyakit yang perlu diperhatikan dalam budiaya buncis. Berikut ini hama dan penyakit pada buncis beserta upaya pengendaliannya;

Hama

Berikut beberapa hama yang umum menyerang tanaman buncis;

Hama kumbang daun

Hama kumbang daun ini adalah jenis Henose pilachna signatipennis atau Epilachna signatipennis. Kumbang ini sering disebut juga kumbang daun epilachna. Bentuk tubuhnya oval, berwarna merah atau coklat kekuningan dengan panjang 6-8 mm. Hama ini tidak terlalu merusak, namun perlu juga dikendalikan agar tidak menurunkan produktivitas tanaman.

Pengendalian ;

  • Pemusnahan telur maupun kumbangnya secara mekanis (manual).
  • Penyemprotan dengan pestisida nabati (campuran ; bawang putih, cabe rawit, jahe, jeruk dan sambiloto.
  • Pergiliran tanaman dengan tanaman lain.

Hama Penggerek Daun

Hama penggerek daun ini umumnya adalah kenis Etilla zinckenella. Gejalanya polong yang masih muda mengalami kerusakan, bijinya banyak yang keropos. Namun kerusakan ini tidak sampai mematikan tanaman.

Pengendalian ;

  • Penyemprotan dengan TOP-BN (MOSA BN) dengan dosis 30 gr (1/3 sachet) dicampur dengan air tangki semprot 14 liter.
  • Waktu penyemprotan sebaiknya di sore hari. Untuk pencegahan dan pengendalian sebaiknya disemprot secara berkala ( seminggu sekali)

Hama Lalat Kacang

Lalat kacang ini adalah jenis Agromyza phaseoli yang termasuk famili Agromyzidae. Lalat betina mempunyai panjang 2,2 mm sedangkan jantan lebih kecil yakni 1,9 mm.

Gejala serangan hama ini adalah  lubang-lubang pada daun dengan arah tertentu, yaitu dari tepi daun menuju tungkai atau tulang daun. Gejala lebih lanjut berupa pangkal daun membengkok atau pecah. Kemudian tanaman menjadi layu, berubah kuning dan akhirnya mati muda. Bila tidak sampai mati, tanaman menjai kerdil dan produktifitasnya sedikit.

Pengendalian ;

  • Pada saat pengolahan tanah, setelah biji-biji buncis ditanam, sebaiknya lahan langsung diberi penutup dari jerami atau daun pisang. Penanaman dilakukan secara serentak. Dengan demikian mencegah lalat kacang ini hinggap untuk meletakkan telurnya.
  • Pengendalian juga dengan penyemprotan pestisida nabati ( campuran bawang putih, cabe rawit, daun mimpba, daun tomat, merica dan sambiloto). Penyemprotan dilakukan 2 sd 3 kali sampai 20 HST ( Hari setelah tanam) tergantung berat ringan serangan.

Hama Kutu Daun

Kutu daun atau Aphis gossypii tidak hanya menyerang tanaman buncis saja, melainkan dapat memakan segala tanaman. Tanaman inangnya antara lain; kapas, semangka, cabaik, terong, bunga sepatu dan jeruk. Kutu daun berwarna hijau tua sampai hitam atau kuning coklat.

Gejala yang tampak adalah pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, batang memutar (memilin), daun keriting dan berwarna kuning.

Pengendalian ;

  • Pengendalian secara ekosisitemik dengan memasukkan/memelihara musuh alami berupa belalang sembah, kumbang koksi (kepik) dan lembing. Pohon mint, adas, dill, yarrow, cengkeh, dan dandelion dikenal dapat menarik minat lacewing, kumbang koksi dan sejenis serangga yang sebenarnya dinamakan “predator kutu daun.” Menempatkan tanaman ini di sekitar tanaman yang ingin Anda lindungi dapat menarik predator sehingga dapat mengendalikan populasi kutu daun.
  • Penggunaan pestisida nabati (dengan campuran bawang putih, bawang merah, cabe rawit, daun mimba, daun tomat dan sambiloto). Penyemprotan dapat dilakukan berkala 1 atau 2 minggu sekali.

Hama Ulat Jengkal Semu

Ulat jengkal semu ini bisanya dari jenis Pluia signata (Phytometra signata) dan jenis Plusia Chalcites. Panjang ulat ini kurang lebih 2 cm, berwarna hijau dengan garis samping berwarna lebih muda.

Gejala serangan pada daun berlubang-lubang. Tanaman menjadi kerdil dan berakibat produktivitas menurun.

Pengendalian ;

TOP BN - Agens Hayati, Pengendali Hama Organik, Anti Walang Sangit dan Serangga Terbang

TOP BN (MOSA BN) – Agens Hayati, Pengendali Hama Organik, Anti Walang Sangit dan Serangga Terbang

  1. Dengan cara mekanis.
  2. Sanitasi dnegan pembersihan gulma-gula yang dapat dijadikan sarang persembunyian hama tersebut.
  3. Penyemprotan dengan TOP-BN (MOSA BN) dengan dosis 30gr (1/3 sachet) dicampur dengan air tangki semprot 14 liter. Penyemprotan dilakukan pada sore hari.

Hama Ulat Penggulung Daun

Ulat penggulung daun ini dari jenis Lamprosema Indicata dan jenis Lamprosema Diemenalis.

Gejala serangan yang nampak yakni pada daun akan kelihatan menggulung dan apabila dibuka biasanya terdapat ulat yang dilindungi oleh benang-benang sutera dan kotoran. Polongan sering pula ikut direkatkan bersama-sama dengan daunnya. Daun juga terdapat lubang-lubang bekas gigitan dari tepi sampai ketulang utama, hingga habis tinggal urat-uratnyta saja.

Pengendalian ;

  • Secara mekanis dengan membuang daun yang terserang tersebut. Dikumpulkan untuk kemudian dapat dimusnahkan dengan cara dibakar ditimbun di tanah.
  • Penyemprotan dengan TOP-BN (MOSA BN) dengan dosis 30gr (1/3 sachet) per tanki air 14 liter. Sebaiknya penyemprotan dapat dilakukan secara berkala untuk pencegahan dengan selang waktu 1 sampai 2 minggu sekali. Penyemprotan ini dilakukan pada sore hari untuk menghindari sinar ultraviolet dari matahari.

Penyakit pada budidaya buncis

Penyakit pada budidaya buncis bisa disebabkan oleh jamur patogen, bakteri maupun dari virus.

Penyakit antraknosa

Penyakit antraknosa pada tanaman buncis ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum Lindemuthianum yang termasuk dalam famili Melanconiaccae.

Gejala :

Terdapat bercak-bercak kecil berwarna coklat karat pada polong buncis muda. Bercak hitam atau coklat tua di bagian batang tanaman tua.

Pengendalian :

  1. Semenjak awal dilakukan perendaman benih dengan BIO-SPF untuk memberikan imunisasi dari dari penyakit tersebut. 1 sendok (± 10 gr) dicampur 1 liter air, digunakan untuk merendam benih buncis ± 10 menit.

    BIO SPF, bio-spf, bio - spf, harga bio spf, harga bio-spf, harga bio - spf - Tanaman Padi :Blas, BLB, Busuk pelepah Tanaman Cabe : Layu, Antraknosa Tanaman Jagung : Bulai Tanaman Kedelai : Karat daun Bawang merah : Pucuk kering & antraknosa Kubis : Akar gada, busuk erwina

    BIO SPF, kemasan 100 gr, cukup untuk kebutuhan budidaya buncis luasan 1000 m2

  2. Pergiliran tanaman, maksudnya untuk memotong siklus hidup cendawan tersebut. Pergiliran tersebut dapat dengan tanaman lobak, wortel atau kol bunga.
  3. Penyemprotan atau pengocoran secara berkala BIO-SPF .  Dilakukan 2 kali, umur ± 1 minggu HST (Hari Setelah Tanam) dan umur 1 bulan HST. 1 sachet BIO-SPF (100gr) dicampur ± 10 liter air, digunakan untuk mengocor bedengan/lahan seluas 1000m2.

Penyakit Embun Tepung

Penyakit embun tepung pada buncis ini disebabkan cendawan Erysiphe polygoni, yang termasuk dalam famili Erysiphaceae.

Gejala yang nampak; daun, batang, bunga dan buah berwarna putih keabuan (seperti beludru). Apabila serangan pada bunga ringan, maka polong masih dapat terbentuk. Namun bila gagal serangannya berat akan dapat menggagalkan proses pembuahan, bunga menjadi kering dan akhirnya mati. Bila polong yang diserang maka polong tidak gugur, tetapi akan meninggalkan bekas berwarna cokelat surat sehingga kualitasnya menurun.

Pengendalian :

  • Semenjak awal dilakukan perendaman benih dengan BIO-SPF untuk memberikan imunisasi dari dari penyakit tersebut. 1 sendok (± 10 gr) dicampur 1 liter air, digunakan untuk merendam benih buncis ± 10 menit.
  • Apabila sudah ada gejala serangan, dilakukan pengendalian secara mekanis dengan memotong bagian-bagian yang sudah terserang, dikumpulkan untuk selanjutnya bisa dibakar.
  • Penyemprotan atau pengocoran secara berkala BIO-SPF .  Dilakukan 2 kali, umur ± 1 minggu HST (Hari Setelah Tanam) dan umur 1 bulan HST. 1 sachet BIO-SPF (100gr) dicampur ± 10 liter air, digunakan untuk mengocor bedengan/lahan seluas 1000m2.

Penyakit Layu bakteri

Penyakit layu bakteri ini disebabkan oleh bakteri Pseuomonas sollanacearum.

Gejala : Tanaman akan terlihat layu, menguning dan kerdil. Bila batang tanaman yang terserang dipotong melintang, maka akan terlihat warna cokelat dan kalau dipijit keluar lendir berwarna putih. Kadang-kadang warna cokelat ini bisa sampai ke daun. Akar yang sakit juga berwarna cokelat.

Pengendalian ;

  • Semenjak awal dilakukan perendaman benih dengan BIO-SPF untuk memberikan imunisasi dari dari penyakit tersebut. 1 sendok (± 10 gr) dicampur 1 liter air, digunakan untuk merendam benih buncis ± 10 menit.
  • Sebaiknya dilakukan pergiliran tanaman, untuk memutus mata rantai sumber penyakit.
  • Penyemprotan atau pengocoran secara berkala BIO-SPF .  Dilakukan 2 kali, umur ± 1 minggu HST (Hari Setelah Tanam) dan umur 1 bulan HST. 1 sachet BIO-SPF (100gr) dicampur ± 10 liter air, digunakan untuk mengocor bedengan/lahan seluas 1000m2.

Penyakit Layu/ Layu Fusarium

Penyakit layu jenis ini disebabkan jamur patogen tular tanah fusarium oxyporum. Jamur patogen jenis ini rawan menyerang terutama saat kelembaban tinggi (musim penghujan).

Gejala yang muncul; Tanaman akan terlihat layu, menguning dan kerdil. Bila batang tanaman yang terserang dipotong melintang, maka akan terlihat warna cokelat dan kalau dipijit tidak keluar lendir.  Tanaman yang sakit apabila dicabut akan terlihat akar berwarna cokelat.

Pengendalian ;

  1. Pada saat persiapan lahan, pada media tanam diberi perlakuan agensia hayati SUPERGLIO (MOSA GLIO). Pemberian agens hayati SUPERGLIO (MOSA GLIO) ini dengan takaran 1 sachet(100  gr) dicampur ± 50 kg pupuk kandang ( 1 karung) kemudian diperam selama 1 sd 2 minggu. Campuran ini ditebar merata ke bedengan untuk luasan 1000m2 (10 bedeng).
  2. Penyemprotan atau pengocoran secara berkala SUPERGLIO (MOSA GLIO) .  Dilakukan 2 kali, umur ± 1 minggu HST (Hari Setelah Tanam) dan umur 1 bulan HST. 1 sachet SUPERGLIO (MOSA GLIO) (100gr) dicampur ± 10 liter air, digunakan untuk mengocor bedengan/lahan seluas 1000m2.

    super glio, superglio, fungisida organik super

    super glio (MOSA GLIO), fungisida organik super,

  3. Pemberian Agensia Hayati SUPERGLIO (MOSA GLIO) ini bisa dengan ditabur dengan cara seperti no 1. Yakni membuat campuran pupuk kandang dengan SUPERGLIO (MOSA GLIO) . 1 (satu) sachet(100  gr) dicampur ± 50 kg pupuk kandang ( 1 karung) kemudian diperam selama 1 sd 2 minggu. Campuran ini ditebar merata ke bedengan untuk luasan 1000m2 (10 bedeng).

Penyakit Bercak Daun

Penyakit bercak daun ini dinamakan demikian berdasarkan gejala yang ditimbulkannya.

Gejalanya yakni ; daun berbercak-bercak kecil berwarna cokelat kekuningan. Lama-kelamaan bercak akan melebar dan bagian tepinya terdapat pita berwarna kuning. Akibat lebih parah, daun menjadi layu dan berguguran. Bila menyerang polong, maka polong berbercak kelabu dan biji yang terbentuk kurang padat dan ringan.

Penyakit bercak daun pada buncis ini disebabkan cendawan/jamur patogen Cercospora canescens , yang termasuk famili Dematiaceae.

Pengendalian;

  • Pada saat persiapan lahan, pada media tanam diberi perlakuan agensia hayati SUPERGLIO (MOSA GLIO). Pemberian agens hayati SUPERGLIO (MOSA GLIO) ini dengan takaran 1 sachet(100  gr) dicampur ± 50 kg pupuk kandang ( 1 karung) kemudian diperam selama 1 sd 2 minggu. Campuran ini ditebar merata ke bedengan untuk luasan 1000m2 (10 bedeng).
  • Penyemprotan atau pengocoran secara berkala SUPERGLIO (MOSA GLIO) .  Dilakukan 2 kali, umur ± 1 minggu HST (Hari Setelah Tanam) dan umur 1 bulan HST. 1 sachet SUPERGLIO (MOSA GLIO) (100gr) dicampur ± 10 liter air, digunakan untuk mengocor bedengan/lahan seluas 1000m2.
  • Pemberian Agensia Hayati SUPERGLIO (MOSA GLIO) ini bisa dengan ditabur dengan cara seperti no 1. Yakni membuat campuran pupuk kandang dengan SUPERGLIO (MOSA GLIO) . 1 (satu) sachet(100  gr) dicampur ± 50 kg pupuk kandang ( 1 karung) kemudian diperam selama 1 sd 2 minggu. Campuran ini ditebar merata ke bedengan untuk luasan 1000m2 (10 bedeng).

Penyakit Hawar Daun

Penyakit hawar daun pada buncis ini disebabkan serangan bakteri Xanthomonas campestris dari famili Pseudomanadaceae. Bakteri ini dapat berkembang pada suhu lebih dari 20° dan suhu optimum 30° celsius. Bakteri ini pun dapat bertahan lama di dalam tanah, di dalam biji dan sisa-sisa tanaman yang sakit.

Gejala serangan; Pada mulanya timbul bercak kuning di bagian tepi daun, kemudian meluas menuju tulang daun tengah. Daun terlihat layu, kering dan berwarna cokelat kekuningan. Pada serangan hebat daun akan berwarna kuning seluruhnya dan akhirnya rontok. Bila serangan meluas sampai ke batang, lama-kelamaan tanaman akan mati.

Pengendalian

  • Memakai benih yang terhindar dari penyakit serta perlakuan perendaman benih dengan BIO-SPF. 1 (satu) sendok (10gr) BIO-SPF dicampur 1 liter air untuk merendam benih buncis ± 10 menit.
  • Sanitasi atau menjaga kebersihan lahan
  • Sebaiknya dilakukan pergiliran tanaman, untuk memutus mata rantai sumber penyakit.
  • Penyemprotan atau pengocoran secara berkala BIO-SPF .  Dilakukan 2 kali, umur ± 1 minggu HST (Hari Setelah Tanam) dan umur 1 bulan HST. 1 sachet BIO-SPF (100gr) dicampur ± 10 liter air, digunakan untuk mengocor bedengan/lahan seluas 1000m2.

Penyakit Busuk Lunak / Busuk Erwina

Penyakit busuk lunak pada buncis ini disebabkan oleh bakteri Erwina Carotopora, yang termasuk famili Enterobacteria. Bakteri ini hanya menyerang bila ada bagian tanaman yang terluka, misalnya gigitan ulat atau memang sudah sakit karena penyakit lain. Seranan ini dapat terjadi di lapangan atau di penyimpanan.

Gejala ; Daun berbercak, berair dan warnanya menjadi kecoklatan. Gejala ini akan cepat menjalar ke seluruh bagian tanaman sehingga tanaman menjadi lunak, berlendir dan berbau busuk . Kadang-kadang juga menyebabkan roboh bila yang terserang batangnya.

Pengendalian ;

  • Memakai benih yang terhindar dari penyakit serta perlakuan perendaman benih dengan BIO-SPF. 1 (satu) sendok (10gr) BIO-SPF dicampur 1 liter air untuk merendam benih buncis ± 10 menit.
  • Sanitasi atau menjaga kebersihan lahan
  • Sebaiknya dilakukan pergiliran tanaman, untuk memutus mata rantai sumber penyakit.
  • Apabila timbul gejala serangan, secara mekanis membuang dan membakar tanaman yang telah terjangkit penyakit tersebut
  • Penyemprotan atau pengocoran secara berkala BIO-SPF .  Dilakukan 2 kali, umur ± 1 minggu HST (Hari Setelah Tanam) dan umur 1 bulan HST. 1 sachet BIO-SPF (100gr) dicampur ± 10 liter air, digunakan untuk mengocor bedengan/lahan seluas 1000m2.

Penyakit Karat

Penyakit karat ini disebabkan jamur patogen Uromyce appendiculatus, termasuk dalam ordo Urendinales. Jamur ini juga mampu bertahan lama di dalam tanah pada bagian tanaman yang sakit walaupun iklimnya kering. Serangan akan kembali menghebat saat kelembaban tingg (musim penghujan). Penyebarannya bisa melalui udara, percikan atau aliran air, serangga maupun terbawa dalam pengangkutan bibit-bibit tanaman di daerah lain.

Gejala ; Pada jaringan daun terdapat bintik-bintik kecil berwarna cokelat baik dipermukaan daun sebelah atas maupun bawah dan biasanya gejala tersebut dikelilingi oleh jaringan khlorosis. Pada varietas yang mampu bertahan, gejalanya berupa bintik-bintik cokelat saja.

Pengendalian ;

  • Menanam benih yang terhindar dari penyakit serta perlakuan perendaman benih dengan BIO-SPF. 1 (satu) sendok (10gr) BIO-SPF dicampur 1 liter air untuk merendam benih buncis ± 10 menit.
  • Sanitasi atau menjaga kebersihan lahan
  • Sebaiknya dilakukan pergiliran tanaman, untuk memutus mata rantai sumber penyakit.
  • Apabila timbul gejala serangan, secara mekanis membuang dan membakar tanaman yang telah terjangkit penyakit tersebut
  • Penyemprotan atau pengocoran secara berkala BIO-SPF  dan  SUPERGLIO (MOSA GLIO). Dilakukan 2 kali, umur ± 1 minggu HST (Hari Setelah Tanam) dan umur 1 bulan HST. 1 sachet BIO-SPF (100gr) dan  SUPERGLIO (MOSA GLIO) dicampur ± 10 liter air, digunakan untuk mengocor bedengan/lahan seluas 1000m2.
  • Pemberian Agensia Hayati SUPERGLIO (MOSA GLIO) ini bisa dengan ditabur dengan cara seperti no 1. Yakni membuat campuran pupuk kandang dengan SUPERGLIO (MOSA GLIO) . 1 (satu) sachet(100  gr) dicampur ± 50 kg pupuk kandang ( 1 karung) kemudian diperam selama 1 sd 2 minggu. Campuran ini ditebar merata ke bedengan untuk luasan 1000m2 (10 bedeng).

Penyakit Damping Off

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytium sp, termasuk famili Phyticeae. Penularannya dapat melalui tanah maupun biji. Serangan hebat juga akan terjadi saat kelembaban tinggi atau di musim hujan.

Gejala ;

Bagian batang yang terletak di bawah keping biji (hipokotil) berwarna putih pucat karena mengalami kerusakan klorofil. Akibatnya terjadi nekrosa secara cepat, jaringan yang berada di atas tanah menjadi mengerut dan mengecil sehingga batang tidak kuat lagi menyangga kotiledon dan kemudian tanaman menjadi roboh.

Pengendalian ;

  • Menyiram tanaman dengan air yang bebas dari penyakit.
  • Pada saat persiapan lahan, pada media tanam diberi perlakuan agensia hayati SUPERGLIO (MOSA GLIO). Pemberian agens hayati SUPERGLIO (MOSA GLIO) ini dengan takaran 1 sachet(100  gr) dicampur ± 50 kg pupuk kandang ( 1 karung) kemudian diperam selama 1 sd 2 minggu. Campuran ini ditebar merata ke bedengan untuk luasan 1000m2 (10 bedeng).
  • Penyemprotan atau pengocoran secara berkala SUPERGLIO (MOSA GLIO) .  Dilakukan 2 kali, umur ± 1 minggu HST (Hari Setelah Tanam) dan umur 1 bulan HST. 1 sachet SUPERGLIO (MOSA GLIO) (100gr) dicampur ± 10 liter air, digunakan untuk mengocor bedengan/lahan seluas 1000m2.
  • Pemberian Agensia Hayati SUPERGLIO (MOSA GLIO) ini bisa dengan ditabur dengan cara seperti no 1. Yakni membuat campuran pupuk kandang dengan SUPERGLIO (MOSA GLIO) . 1 (satu) sachet(100  gr) dicampur ± 50 kg pupuk kandang ( 1 karung) kemudian diperam selama 1 sd 2 minggu. Campuran ini ditebar merata ke bedengan untuk luasan 1000m2 (10 bedeng).

Penyakit Ujung Keriting

Berbeda dengan berbagai penyakit di atas, untuk penyakit ini disebabkan oleh mikrobia jenis virus yakni virus mozaik keriting. Penularan virus mosaik ini melalui vektor serangga yakni kutu loncat dari famili Yassidae. Dari tingkat muda sampai dewasa, kutu ini dapat menjadi pembawa (carrier) virus tersebut.

Gejala ; Pada daun-daun muda menjadi keriting dan berwarna kuning, sedangkan daun yang sudah tua menggulung atau memilin. Biasanya daun-daun terasa lebih kaku, tangkai daun menggeriting ke bawah dan batang tidak normal. Tanaman muda terserang menjadi kerdil.

Pengendalian ;

  • Menanam bibit yang tahan penyakit, seperti jenis Spurt dan Strike
  • Mencabut dan membakar tanaman yang telah terserang penyakit
  • Pengendalian kutu loncat sebagai vektor pembawa tersebut dengan pestisida nabati (campuran ; bawang putih, cabe rawit, jahe, jeruk dan sambiloto).
  • Pengendalian penyakit dengan antivirus nabati MOSA ‘Bimasakti’. Cara aplikasinya 2ml antivirus nabati MOSA tersebut, dicampur 1 liter air. Digunakan untuk menyemprot secara selektif (agar lebih hemat). Penyemprotan dilakukan 2 kali pada 10 dan 20 HST (Hari setelah tanam).
Bagikan :

1 Respon

  1. Sarganeo berkata:

    Batang dan daun layu bonggol batang berlendir utk tanaman buncis apabila ada pohon terserang kanan kirinya kena juga apa obatnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.