Pedoman Budidaya Udang jenis udang Windu dan udang Vannamei

Budidaya udang mitra MMC - Jabar

Budidaya udang mitra MMC – Jabar

Budidaya udang Windu (black tiger) di Indonesia baik di jawa maupun luar jawa pernah mengalami masa jaya pada kisaran tahun 1985-1995. Saat itu emas hitam berupa udang windu yang dibudidayakan di tamabak benar – benar menjadi tambang emas. Sistem budidaya yang super intensif dan dilakukan secara  terus menerus tanpa ada perlakuan yang lebih bijak terhadap kondisi lahan menyebabkan penurunan terhadap panen yang didapat, bahkan sering terjadi gagal panen dalam pembudidayaanya. Udang Vannamei menggantikan popularitas udang windu, karena petambak beralih ke udang Vannamei yang bisa menghasilkan keuntungan.

Selain dari aktifitas tambak sendiri juga didukung oleh polusi dari aktifitas pabrik, limbah kota, dan pencemaran lainnya yang membuat merosotnya hasil yang didapat. Sering terjadi, para pemodal kuat hanya memanfaatkan tambak dalam waktu yang singkat, asal mendapatkan keuntungan, awalnya budidaya dipacu semaksimal mungkin, tapi ketika daya dukung lahan merosot mereka meninggalkan lahan tersebut dan pindah mencari lahan baru yang masih bagus.

Sangat disayangkan sebenarnya, lahan yang sudah terpakai hanya ditinggal begitu saja atau hanya dikelola dengan ala kadarnya, karena jika dilakukaan seperti sistem awal kemungkinan yang terjadi adalah gagal panen.

Pemilihan Lokasi Tambak

Tempat ideal untuk budidaya tambak udang

  • Daerah pantai yang masih bersih perairannya, bebas dari polutan misalnya di pantai barat Sumatra, pantai Selatan Jawa, Sulawesi, NTB, danNTT.
  • Mudah mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obat-obatan dan lain-lain
  • Tekstur tanah yang kuat, liat, liat geluh pasiran
  • Ada aliran/sumber air tawar
  • Mudah diakses/transportasinya

Tipe Budidaya

Tipe budidaya tambak udang bila dilihat berdasarkan letak, biaya dan operasi pelaksanaannya dibedakan menjadi :

Tambak Ekstensif atau tradisional

Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa bakau. Ukuran dan bentuk petakan tidak teratur, belum meggunakan pupuk dan obat-obatan dan program pakan tidak teratur.

Tambak Semi Intensif

Bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas (1-3 ha/petakan), merupakan hamparan terbuka, padat penebaran masih rendah, penggunaan pakan buatan masih sedikit.

Tambak Intensif

Merupakan kawasan yang luas dengan desain penataan tambak berdasarkan Blok, Unit, dan Modul. Satu modul biasanya terdiri dari Treatment Pond, Kanal Pemasukan Air, Beberapa Petak Budidaya, dan kanal Pembuangan. Ukuran petakan dibuat kecil untuk efisiensi pengelolaan air dan pengawasan udang. Padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta program pakan yang baik.

Pengelolaan Tambak/persiapan tambak

Pengelolaan tambak , meliputi :

  • Pengeringan kolam total

Kolam tambak dikeringkan dan dilakukan perbaikan terutam disisi pematang, aliran air dasar kolam. Bersihkan hama/ikan liar yang masih ada ditambak, keringkan dari air. Pengeringan yang dilakukan, semakin kering semakin baik, untuk menghilangkan hama dan penyakit maupun ikan liar dan terjadinya pelepasan bahan/senyawa beracun

  • Pengangkatan lumpur hitam

Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun berupa Amonia dan H2S yang membahayakan udang. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.

  • Pembalikan Tanah

Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.

  • Pengapuran

Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan dosis masing-masing 1 ton/ha.

  • Perlakuan pupuk MMC MINA

Untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi perlakuan MMC MINA dengan dosis 5 botol/ha untuk tambak yang masih baik atau masih baru dan 10 botol MMC MINAuntuk areal tambak yang sudah rusak. Caranya masukkan sejumlah MMC MINA ke dalam air, kemudian aduk hingga larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.

  • Pemasukan Air

Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan MMC MINA . Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan dosis 600 kg/ha.


Pemilihan Bibit/Benur dan Penebaran Benur

 Benur yang baik mempunyai tingkat kehidupan (Survival Rate/SR) yang tinggi, daya adaptasi terhadap perubahan lingkungan yang tinggi, berwarna tegas/tidak pucat baik hitam maupun merah, aktif bergerak, sehat dan mempunyai alat tubuh yang lengkap. Uji kualitas benur dapat dilakukan secara sederhana, yaitu letakkan sejumlah benur dalam wadah panci atau baskom yang diberi air, aduk air dengan cukup kencang selama 1-3 menit. Benur yang baik dan sehat akan tahan terhadap adukan tersebut dengan berenang melawan arus putaran air, dan setelah arus berhenti, benur tetap aktif bergerak.

 Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur adalah :

  • Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.
  • Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.
  • Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya,
  • sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.
  • Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.

Pakan Udang

Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk). Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa pelet. Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang. Untuk meningkatkan mutu, menjaga kondisi daya tahan udang terhadap penyakit, memperkecil FCR, ditambahkan VIT TO TERNA pada pakan sebelum diberikan ke tambak. Dosisnya 1 botol 500 cc untuk 25-50 kg pakan. Pemberian VIT TO TERNA dilakukan tiap hari, minimal dilakukan tiap 1 minggu sekali.
Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.

  1. Umur 1-10 hari pakan 01
  2. Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02
  3. Umur 16-30 hari pakan 02
  4. Umur 30-35 campuran 02 dengan 03
  5. Umur 36-50 hari pakan 03
  6. Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S
    (jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).

Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen. Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.


Pemeliharaan

Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis.

Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi perlakuan MMC MINA dengan dosis 1 – 2 botol MMC

MINA /ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.

Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi bahan organik terlarut yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dengan dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air baru tetap diberi perlakuan MMC MINA.
Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi air yang jelek (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan MMC MINA 1-2 botol/ha. Jika konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi, menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, akibatnya udang mudah mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau makan, kotor dan diam di sudut-sudut tambak, yang dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme.


Panen

Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 – 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.

Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.