budidaya penggemukan sapi berpotensi hasil tinggi dengan probiotik

Sapi Limousine - peternakan penggemukan sapi milik Pak H Toyo S Dipo

Beberapa faktor teknis yang menetukan dalam nilai ekonomis usaha penggemukan sapi potong yaitu bangsa, jenis kelamin, umur, bobot badan dan kondisi awal, dan pemberian pakan. Bangsa sapi bakalan yang digunakan dalam penggemukan ikut menentukan keuntungan atau keberhasilan terkait dengan pencapaian pertambahan bobot badan yang optimal. Jenis kelamin ternak merupakan faktor yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan sapi bakalan.

Sapi jantan biasanya memiliki pertumbuhan (PBBH) yang lebih baik, persentase karkas yang lebih tinggi, efisiensi pakan lebih tinggi, cenderung memiliki persentase lemak yang lebih rendah dari pada sapi betina. Umur sapibakalan yang ideal untuk penggemukan adalah ternak dewasa yaitu antara 1,5-2,5 tahun dan pada saat dijual tidak melebihi umur 3 tahun.

Bobot badan dan kondisi awal sapi bakalan yang akan digemukan berpengaruh terhadap lama penggemukan, bobot badan ideal untuk pasar sebesar 400-500 kg sehingga diperlukan bobot badan awal antara 260-300 kg.

Pemberian pakan bagi usaha penggemukan komersial (feedlot) dengan masa penggemukkan 3 bulan dikenal dengan teknologi grain feed, maka kualitas pakan diatur sedemikian rupa sehingga dapat memberikan hasil yang menunjang pertumbuhan yang optimal dan menghasilkan kualitas daging yang baik. Teknologi grain feed menggunakan hijauan sebasar 15-20% dan pakan konsentrat sebesar 80-85%, tergantung dari nilai ekonomi yang didasarkan pada konversi pakan yang diperoleh.

Ransum sapi dibutuhkan ≥ 3% dari bobot badan, dan kandungan protein minimal 9% dan energi (TDN) sebesar 60-70%. Pakan hijauan yang diberikan meliputi rumput, leguminosa dan limbah pertanian.

Rumput dapat diberikan 10% dari BB, leguminosa seperti lamtoro, turi atau gamal dapat diberikan anatara 20-60% dari total hijauan dan dapat menurunkan jumlah pemberian konsentrat. Limbah pertanian seperti jerami padi, jerami jagung dll disarankan tidak lebih dari 3% BB. Konsentrat yang diberikan harus mengandung BK > 88%, PK > 12%, LK < 6%, SK 12-17%, TDN > 64% dan abu < 10%. Penggunaan limbah industri pertanian aksimal untuk bungkil kelapa 20%, bungkil kedele 25%, dedak padi 100% dan ampas sagu 15% dari konsentrat.

Penggemukan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Konsentrat yang digunakan adalah ampas tahu, ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas dan buatan pabrik pakan. Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan. Kebutuhan pakan (dalam berat segar) tiap ekor adalah 10% berat badannya. Untuk membantu proses pencernaan dapat ditambahkan suplemen Vittoterna.

budidaya sapi - panduan pemberian vittoterna
budidaya sapi – panduan pemberian vittoterna

Produktivitas ternak ruminansia dapat diperbaiki dengan memanfaatkan mikroorganisme /probiotik yang terkandung dalam VITTO terna ini dalam  meningkatkan kualitas pakan dan memperbaiki kondisi rumen. Ada 2 cara pengelolaan hijuan pakan ternak, yaitu melalui pengawetan dan melalui teknologi pengkayaan nutrisi ( khusus untuk limbah hasil pertanian/perkebunan).

Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah, setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi. Disamping hijauan ternak sapi juga perlu diberi pakan tambahan 1% – 2% dari berat badan.

Ransum tambahan yang biasa diberikan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus.

Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum. Pakan (ransum) merupakan campuran dari dua atau lebih bahan pakan yang diberikan untuk seekor ternak selama sehari semalam. Ransum harus dapat memenuhi kebutuhan zat nutrien yang diperlukan ternak untuk berbagai fungsi tubuhnya, yaitu untuk hidup pokok, produksi maupun reproduksi. Pada mumumnya ransum untuk ternak ruminansia terdiri dari pakan hijauan dan pakan konsentrat.

Pakan pokok (basal) dapat berupa rumput, legum, perdu, pohon-pohonan serta tanaman sisa panen. Sedangkan pakan konsentrat antara lain berupa biji-bijian, bungkil, bekatul dan tepung ikan. Kebutuhan zat-zat makanan untuk induk-induk sapi dan pejantan sapi pedaging.

Pengelolaan Pakan Sesuai Jenis dan Umur

Berikut adalah hasil penelitian pakan dan nutrisi sapi PO yang dilakukan di Loka Penelitian Sapi Potong sejak tahun 2002 sampai tahun 2008, merekomendasikan strategi dan alternatif model pakan.

1. Pembibitan Sapi

a. Sapi Sapihan

Penyapihan dilakukan setelah pedet berumur 205 hari atau sekitar 7 bulan yang diharapkan pedet telah mampu mengkonsumsi dan memanfaatkan pakan kasar dengan baik. Introduksi teknologi pakan yang dilakukan untuk efisiensi biaya pemeliharaan dengan target PBBH > 0,6 kg/ekor/hari berupa pemberian pakan sebanyak 1-3% dari bobot badan dengan kandungan PK ≥ 10%, TDN ≥ 60%, SK ≤ 15% dan abu ≤ 10%. Alternatif pakan yang diberikan berupa dedak 2-3 kg, kulit ubi kayu 2-3 kg, rumput segar 3-4 kg dan jerami padi kering 2-4 kg. Alternatif pakan ini untuk sapi sapihan dengan bobot badan 150-175 kg dan skor kondisi badan 6-7. Pemberian Vittoterna diberikan 1/2 tutup sd 1 tutup per ekor perhari, diberikan dengan cara dicampur pada pakan.

b. Sapi Dara

Introduksi teknologi pakan dilakukan untuk efisiensi biaya biaya pemeliharaan dengan target PBBH > 0,6 kg/ekor/hari. Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang optimal dan ekonomis pada sapi dara adalah konsentrat murah/komersial yang memiliki kandungan PK > 8% dan TDN 60% sebanyak 1-3% dari bobot badan. Alternatif model pakan untuk sapi dara dengan bobot badan 200 kg adalah 2 kg konsentrat komersial/dedak padi, tumpi jagung 3 kg, kulit kopi 1 kg, rumput segar 3-4 kg dan jerami padi kering ad-libitum (±4 kg/ekor/hari). Pemberian Vittoterna diberikan 1/2 tutup sd 1 tutup per ekor per hari, diberikan dengan cara dicampur pada pakan.

c. Sapi Bunting Tua

Teknologi steaming up, challenge dan flushing dilakukan secara berkesinambungan sejak sapi induk bunting 9 bulan hingga menyusui anak umur 2 bulan. Pakan konsentrat murah sebanyak 1-3% dari bobot badan dengan kandungan PK minimal 10%, TDN minimal 60%, SK maksimal 20% dan abu maksimal 10%. Alternatif model pakan yang diberikan untuk sapi induk bunting tua dengan bobot badan 325-350 kg adalah 3,5 kg dedak, tumpi jagung 4-6 kg, kulit kopi 1 kg, rumput segar 3-4 kg dan jerami padi kering ad-libitum 4-7 kg/ekor/hari.

Untuk sapi bunting tua, sebaiknya pemberian Vittoterna bisa dihentikan dahulu atau dikurangi menjadi 3 sd 7  hari sekali dengan dosis 1/2 sampai 1 tutup per ekor. Pengurangan pemberianVittoterna bertujuan agar anak yang dikandung tidak terlalu besar sehingga kesusahan bagi sang induk  untuk mengeluarkannya.

d. Sapi Menyusui

Penyapihan pedet dianjurkan pada umur 7 bulan mengingat susu merupakan pakan terbaik bagi pedet. Sapi induk dapat menghasilkan susu sampai umur kebuntingan 7 bulan tanpa berpengaruh terhadap kebuntingannya. Pemberian pakan murah untuk induk menyusui dapat berupa 1,5-3% dari bobot badan dengan kandungan PK minimal 12%, TDN minimal 60%, SK maksimal 20% dan abu maksimal 10%.
Alternatif model pakan yang diberikan untuk sapi induk menyusui dengan bobot 300 kg berupa dedak 4-7 kg, tumpi jagung 6 kg, rumput segar 4 kg dan jerami padi kering adlibitum 4-7 kg/ekor/hari. Pemberian Vittoterna diberikan 1/2 tutup sd 1 tutup per ekor per hari, diberikan dengan cara dicampur pada pakan.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.