Bahasa jawanya adalah jali, tanaman yang mirip tanaman jagung ini layak untuk dikembangkan sebagai pangan alternatif. Kandungan protein dan kalsium dalam biji hanjeli relatif tinggi dibandingkan dengan beras. Budidayanya juga mudah karena relatif tidak ada hama dan penyakit.
Cara panen tanaman hanjeli dengan cara di ratoon seperti tanaman tebu. Dengan cara panen ini tanaman hanjeli setelah dibabat untuk dipanen, akan segera tumbuh kembali untuk panen berikutnya.
Potensi hanjeli belum banyak yang melirik mengingat masih kalah populer dengan sorgum. Bayangan mengenai biji hanjeli lebih populer sebagai bahan manik-manik perhiasan dibandingkan sebagai tanaman pangan. Padahal jenis hanjeli memang ada 2 macam, yakni hanjeli yang berbiji keras (yang biasa dipakai sebagai bahan manik-manik perhiasan) dan hanjeli ketan (yang menjadi bahan pangan).
Bahkan di jaman dahulu, hanjeli banyak dipakai untuk membuat tapai hanjeli. Tapai hanjeli ini memiliki citarasa yang legit tak kalah dengan tapai dari ketan.
Berikut dokumentasi tim MMC ke lahan petani Hanjeli organik di Magelang yang menerapkan teknologi MMC:
