Arsip Tag: pestisida organik

Pestisida organik adalah pestisida yang bahan aktifnya barasal dari tanaman atau tumbuhan, hewan dan bahan organik lainnya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama pada tanaman. Pestisida organik tidak meninggalkan residu yang berbahaya pada tanaman maupun lingkungan.

Kutu dompolan (Pseudococcus citri (Risso)) penghisap cairan tanaman

Hama Kutu dompolan  (Pseudococcus citri (Risso))

 Tanaman Inang :

Jeruk, Pepaya, Kakao,Buah Naga,

 

 

 

Gejala Serangan :

Kutu dompolan/kutu putih menghisap cairan tanaman pada daun, ranting dan bunga. Bunga dan buah muda yang terserang menjadi gugur. Lanjutkan membaca Kutu dompolan (Pseudococcus citri (Risso)) penghisap cairan tanaman

Gugurnya bunga dan buah Alpukat akibat serangan kutu dompolan

  1. Kutu dompolan (Pseudococcus citri (Risso) )

Hama berupa kutu Pseudococcus . Dewasa bentuk tubuh oval berukuran 3 mm, berwarna kuninga hingga  coklat kekuningan, tertutup tepung putih, mempunyai tonjolan di tepi tubuh dengan jumlah 14 – 18 pasang. Tonjolan yang panjang pada bagian belakang tubuh. Lanjutkan membaca Gugurnya bunga dan buah Alpukat akibat serangan kutu dompolan

Aphis gossypii Glov. pada Alpukat.

.Hama Aphis gossypii Glov pada Alpukat

Hama Aphid adalah kutu yang saat muda tidak bersayap. Namun saat dewasa mempunyai sayap transparan. Warna tubuh hijau tua sampai hitam atau kunig coklat. Hama ini mengeluarkan embun madu yang biasanya ditumbuhi cendawan jelaga sehingga daun menjadi hitam. Embun madu disenangi semut sehingga banyak yang datang Lanjutkan membaca Aphis gossypii Glov. pada Alpukat.

Budidaya Nanas, Bag III – Pemeliharaan sd Panen

lahan-budidaya-tanaman-nanas
lahan nanas

Pemeliharaan tanaman nanas setelah dipindah ke lahan meliputi penyulaman, penyiangan, pembumbunan, pemupukan serta pengendalian hama penyakit. Nanas termasuk tanaman tahunan yang tidak terlalu butuh pengairan yang banyak, tetapi Lanjutkan membaca Budidaya Nanas, Bag III – Pemeliharaan sd Panen

Hama wereng punggung putih pada padi

Hama Wereng punggung putih ( Sogatella furcifera)

Tanaman Inang :

Padi sawah..

Gejala Serangan :

  1. Wereng merusak tanaman padi dengan cara menghisap cairan batang padi dan dapat menularkan virus.
  2. Tanaman padi menjadi kuning dan mengering, sekelompok tanaman seperti terbakar (hopper burn)
  3. Gejala serangan ama seperti serangan wereng coklat.
  4. Wereng pungung putih biasanya tidak berbahaya karena populasinya rendah, namun pada tahun 2000 dan 2009 terjadi ledakan serangan wereng punggung putih di area persawahan Pantai Utara.

 

Biologi Hama :

1.Nympha wereng punggung putih berwarna cokat pucat, wereng dewasa  putih, abdomen berwarna hitam, kaki coklat oker. Sayap transparan kecoklatan.

2.Ukuran wereng punggung putih panjang 3,5 – 4 mm

  1. Dewasa hidup 18 – 20 hari. Satu siklus generasi memerlukan waktu 3 – 4 minggu
  2. Wereng menyukai pertanaman yang dipupuk Nitrogen tinggi dengan jarak tanam rapat.
  3. Generasi saat terjadinya ledakan populasi wereng punggung putih disebut Generasi 0 (G0) dan setelah 25 – 30 kemudian merupakan Generasi 1. Selanjutnya pada 25 – 30 hari kemudian muncul Generasi 2 (G2).

Cara Pengendalian :

  1. Menanam varietas tahan wereng, seperti Ciherang, Bondoyudo, Sintanur, IR 48, IR 64.
  2. Pengaturan pola tanam, yaitu dengan melakukan penanaman secara serentak maupun dengan pergiliran tanaman. Pergiliran tanaman dilakukan untuk memutus siklus hidup wereng dengan cara menanam tanaman palawija atau tanah dibiarkan selama 1 s/d 2 bulan.
  3. Pengendalian hayati, yaitu dengan menggunakan musuh alami wereng, misalnya laba-laba predator Lycosa Pseudoannulata, kepik Microvelia douglasi dan Cyrtorhinuss lividipenis, kumbang Paederuss fuscipes, Ophinea nigrofasciata, dan Synarmonia octomaculata.
  4. Memberikan pupuk K untuk mengurangi kerusakan.
  5. Memonitor populasi hama tiap seminggu sekali dan paling lambat 2 minggu.
  6. Menggunakan Agens Hayati MOSA BN yang berbahan aktif Beauveria bassiana dan Nomuraea rileyi. Tiap 30 gr dilarutkan dalam 1 tangki isi 14 liter. Penyemrotan saat pembibitan umur 10 hari setelah sebar (HSS), dan tanaman umur 40 hari setelah tanam (HST). Lahan 1000 m2 diperlukan MOSA BN 100 – 200 gr. Penyemprotan dilakukan pada generasi G 0 atau G1.

Pustaka :

1.Kalshoven, LGE, Pest of Crops in Indonesia, Jakarta, 1981, 701 p, halaman  135.

mosa glio

MOSA Glio (Super Glio), adalah Agens Hayati jenis ‘fungisida organik’ yang mengandung bahan aktif Gliocladium sp dan Trichoderma sp setara 1,6 x 1013 spora/ml. Berkerja ganda mampu mengendalikan dan mengatasi jamur patogen tular tanah (soil borne). Dapat diaplikasikan dengan pupuk kandang atau kompos sebagai media tanam
MOSA Glio (Super Glio),  Agens Hayati jenis ‘fungisida organik’ berbahan aktif Gliocladium sp dan Trichoderma sp

MOSA Glio (Super Glio), adalah Agens Hayati jenis ‘fungisida organik’ yang mengandung bahan aktif Gliocladium sp
dan Trichoderma Harzianum setara 1,6 x 1013 spora/ml. Lanjutkan membaca mosa glio

SUPER GLIO – Fungisida Organik Super

SUPER GLIO merupakan pestisida biologi yang mengandung bahan aktif : Gliocladium sp Trichoderma sp Gliocladium sp. berfungsi sebagai, parasitisme, kompetisi, dan antibiosis yang dapat memproduksi gliovirin dan viridin yang merupakan antibiotik yang bersifat fungistatik. Gliovirin merupakan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur patogen dan bakteri. Trichoderma sp mampu menghasilkan sejumlah enzim ekstraseluler beta (1,3) glukonase dan kitinase yang dapat melarutkan dinding sel patogen. Selain menghasilkan enzym, Trichoderma sp juga menghasilkan toksin yang dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya Juga berfungsi sebagai penghasil antibiotik gliotoksin dan viridin yang dapat melindungi bibit tanaman dari serangan penyakit rebah kecambah.

Cara kerja Top BN

Berikut cara kerja TOP BN yang mengandung bahan aktif Beauveria bassiana dan Noumeria Rileyi. Klik untuk memutar slide.


SUPERMETA – Agens Biologi Sahabat Perkebunan

Pestisida biologi SUPERMETA mengandung Metarhizium anisopliae, yang merupakan jamur entomopatogen, artinya jamur yang bersifat patogen pada serangga.
Supermeta mengandung bahan aktif Metarhizium anisopliae sp, yang merupakan jamur entomopatogen yang bersifat patogen terhadap serangga. Lanjutkan membaca SUPERMETA – Agens Biologi Sahabat Perkebunan