Arsip Tag: agens hayati

Agens Hayati yaitu setiap organisme yang meliputi spesies, subspesies, varietas, semua jenis serangga, nematoda, protozoa, cendawan (fungi), bakteri, virus, mikoplasma, serta organisme lainnya dalam semua tahap perkembangannya yang dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian
hama dan penyakit atau organisme pengganggu, proses produksi, pengolahan hasil pertanian, dan berbagai keperluan lainnya (Menteri Pertanian RI 1995).
Agens hayati tidak hanya digunakan untuk mengendalikan OPT, tetapi juga mencakup pengertian penggunaannya untuk mengendalikan penyakit atau jasad pengganggu pada proses produksi dan pengolahan hasil pertanian.

Pseudomonas solanacearum pada cabai

hama penyakit pada cabai - penyakit busuk bakteri pada cabai
hama penyakit pada cabai – penyakit busuk bakteri pada cabai

Pseudomonas solanacearum merupakan penyebab layu bakteri pada cabai

Nama Penyakit :

Layu Bakteri pada Cabai (Capsicum frutescens/ Capsicum annuum)

Penyebab :

Penyakit disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum (E.F. Sm) E.F. Sm. Lanjutkan membaca Pseudomonas solanacearum pada cabai

Budidaya, Bag II – Budidaya Jambu Air Teknologi Organik MMC.

III. Budidaya Jambu Air.

1.Pengolahan Tanah.

Lahan dibersihkan dari tunggul dan tanaman besar yang mengganggu. Lahan dibajak atau dicangkul. Lubang tanam dibuat satu bulan sebelum datangnya musim penghujan dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm.

2.Jarak Tanam.

Jarak tanam jambu air adalah 8 m x 8 m. Populasi tanaman per Ha adalah 156 tanaman.

  1. Penanaman.

Lubang tanam yang sudah siap diisi dengan pupuk kandang 20 -30 kg per lubang tanam dan dicampur dengan tanah.Bibit okulasi dilepas polybagnya hati hati agar akar tidak putus.Penanaman bibit diletakkan pada lubang disesuaikan dengan besar bibit.

Penanaman dilakukan saat awal musim penghujan pada sore hari.

Selain ditanam di lahan, bibit jambu air bisa ditanam sebagai tabulampot dengan diameter pot minimal 50 cm. Media tabulampot adalh 1 bagian tanah, 1 bagian arang sekam dan 2 bagian pupuk kandang. Lanjutkan membaca Budidaya, Bag II – Budidaya Jambu Air Teknologi Organik MMC.

Penyakit Xanthomonas Pada Singkong (Manihot esculenta Crantz)

Xanthomonas  Pada Singkong (Manihot esculenta Crantz)

Nama Penyakit : Hawar  Bakteri.     

Penyebab Penyakit : Xanthomonas axonopodis pv. manihotis

Morfologi Patogen:

Penyakit disebabkan oleh bakteri Xanthomonas axonopodis pv. manihotis (Bondar, 1915) Vauterin et al., 1995.

Bakteri berbentuk batang pendek 1,6 x 0,6 um, gram negatif, tidak membentuk kapsula, dan tidak membentuk spora, bergerak dengan 1 flagellum (bulu cambuk) yang terletak pada ujung.

Bakteri bersifat aerob, dapat tumbuh cepat, tidak membentuk pigmen pada media yang mengandung gula.

Gejala Penyakit :

Gejala bisa terihat pada daun dan batang singkong.Pada daun terdapat bercak kebasah-basahan, bentuk tidak teratur, bersudut-sudut, dikelilingi oleh daerah berwarna hijau tua. Gejala meluas dengan cepat dan warna bercak menjadi coklat muda, mengeriput, daun menjadi layu dan rontok.

Batang yang terinfeksi akan mengering dan menyebabkan mati ujung. Pada penampang melintang batang yang terinfeksi berkas pembuluh berwarna coklat dan terjadi nekrosis.Pada penampang membujur tampak seperti garis-garis.

Getah yang terdiri masa bakteri bisa keluar dari batang, bercak daun sebelah bawah, sekitar tulang daun. Gejala khas infeksi terjadi pada hari ke 11 – 13 setelah infeksi.

 

 

 

 

Daur Penyakit :

Bakteri menginfeksi melalui mulut kulit atau melaui luka pada jaringan epidermis.. Bakteri masuk kejaringan pengangkutan dan dengan cepat masuk kedalam jaringan oengangkutan

Bakteri masuk ke dalam jaringan pengangkutan dan secara meluas menghancurkan parenkim pada daun tunans nuda.

Bakteri tidak tahan lama dalam tanah. Namun alat alat pertanian yang terkontamisani bisa menyebabkan  dapat menyerbarkan bakteri. Seperti parang

Cara bertahan bakteri dari musim ke musim beum banyak diketahui, juga tumbuhan inang lain juga belum banyak diketahui. Di Jepang saat musim dingin, bakteri bisa bertahan pada jerami atau tunggul tunggul rumpun padi.

Cara Pengendalian :

Pengendalian penyakit Hawar Daun Bakteri/ Kresek   dikendalikan dengan agens hayati BIO SPF dengan bahan aktif Pseudomonas fluorescent.

Untuk perendaman bibit singkong satu sendok  (10 gr)  BIO SPF dilarutkan dalam 10 liter air untuk merendam bibit selama 2  jam.

Selanjutnya aplikasi dilakukan saat tanaman berumur 2 minggu dengan penyemprotan pada pangkal batang singkong. Tiga sendok (33 gr) BIO SPF dicampur dengan 14 liter air dan disemprotkan  pada pangkal batang singkong.Lahan seluas 1000 m2 diperlukan BIO SPF 1 sachet isi 100 gr.

Penyemprotan dilakukan pada sore hari agar agens hayati tidak terganggu UV (ulra violet) dari sinar matahari saat pagi dan siang hari.

Sclerotium Pada Tanaman Jagung (Zea mays L),

Sclerotium Pada Tanaman  Jagung (Zea mays L),

Nama Penyakit :

1 .Busuk batang pada jagung

2. Busuk pelepah / Hawar Upih daun pada jagung.

3. Busuk pangkal batang pada  jagung

Penyebab Penyakit :

Jamur Sclerotium rolfsii Sacc atau disebut Corticium rolfsii (Sacc.) Curzi.

Morfologi Patogen:

Jamur membentuk  miselium berwarna putih seperti bulu atau kipas pada pelepah daun. Jamur tidak membentuk spora.Miselium berkembang menjadi sklerotium yang semula berwarna putih kemudian berubah menjadi coklat .

Sklerotium terlindung lapisan yang kuat sehingga tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan . Di dalam tanah sklerotium tahan sampai 7 tahun.Saat kering sklerotium berubah menjadi keriput namun bila keadaan lembab akan cepat berkecambah.

Gejala Penyakit :

Pelepah daun muncul bercak berwarna kemerahan kemudian menjadi kelabu, semakin meluas. Gejala busuk pelepah dimulai dari bagian tanaman dekat tanah dan meluas ke atas.

Daur Penyakit :

Tanaman dan tanah yang terinfeksi jamur Sclerotium rolfsii bisa menjadi sumber penyebaran penyakit. Tanaman yang terserang jamur harus dicabut dan di bakar. Sedangkan tanah yang terinfeksi jangan sampai tersebar ke empat lain.

Cara Pengendalian :

Penggunaan agens hayati MOSA GLIO (Super GLIO) dengan bahan aktif Gliocladium sp dan Trichoderma harzianum sangat nyata dalam menekan laju infeksi penyakit akar merah / Ganoderma sp. Perlakukan pada pembibitan dan tanaman di lahan dengan MOSA GLIO (Super GLIO) adalah cara yang efektif dan efisien mengendalikan penyakit akar merah.

Cara aplikasi : yaitu satu sachet MOSA GLIO (Super GLIO) isi 100 gr dicampur dengan 50 kg pupuk kandang yang sudah matang kemudian diperam selama satu minggu di tempat yang teduh dan terlindung dari hujan.

Campuran pupuk kandang dengan MOSA GLIO (Super GLIO) sebanyak 50 kg digunakan untuk lahan seluas 1000 m2. Campuran pupuk kandang dan MOSA GLIO dimasukkan pada lubang tugal disamping lubang tanam. Aplikasi dilakukan bersamaan saat tanam. Setelah dimasukkan lubang tugal baiknya ditutup tanah tipis agar MOSA GLIO terlindung dari sinar matahari.

Hama dan Penyakit pada Budidaya Jambu Biji

Hama Uret / Gayas (Lepidiota stigma)

 Uret pemakan akar, embug, gayas, hama gayas,Hama uret menyerang berbagai tanaman pada lahan tanah  berpasir / gravel.

Lanjutkan membaca Hama dan Penyakit pada Budidaya Jambu Biji

mosa glio

MOSA Glio (Super Glio), adalah Agens Hayati jenis ‘fungisida organik’ yang mengandung bahan aktif Gliocladium sp dan Trichoderma sp setara 1,6 x 1013 spora/ml. Berkerja ganda mampu mengendalikan dan mengatasi jamur patogen tular tanah (soil borne). Dapat diaplikasikan dengan pupuk kandang atau kompos sebagai media tanam
MOSA Glio (Super Glio),  Agens Hayati jenis ‘fungisida organik’ berbahan aktif Gliocladium sp dan Trichoderma sp

MOSA Glio (Super Glio), adalah Agens Hayati jenis ‘fungisida organik’ yang mengandung bahan aktif Gliocladium sp
dan Trichoderma Harzianum setara 1,6 x 1013 spora/ml. Lanjutkan membaca mosa glio

Percobaan Agens Hayati Supermeta (MOSA META) di Lahan Sawit Kalbar

Larva kumbang tanduk yang terinfeksi supermeta mosa mata
Larva kumbang tanduk yang terinfeksi supermeta mosa mata

Tanaman sawit tua maupun tanaman muda terancam dengan berkembangnya serangan kumbang tanduk ini Hama ini sanggup  mematikan tanaman muda / tua lewat serangan di titik tumbuhnya.

Lanjutkan membaca Percobaan Agens Hayati Supermeta (MOSA META) di Lahan Sawit Kalbar

Bagaimana kerja agens hayati mengatasi penyakit kuning

Penyakit BPB atau busuk pangkal batang di kalangan petani lada / merica ada yang menyebut dengan penyakit kuning. Lanjutkan membaca Bagaimana kerja agens hayati mengatasi penyakit kuning

Aplikasi Pestisida Biologi / Agens Hayati Pada Tanaman Lada

penyemprotan agens hayati / pestisida biologi TOP BN untuk mengendalian penggerek batang lada aman bagi manusia sehingga tidak perlu menggunakan masker
Penyemprotan agens hayati / pestisida biologi TOP BN untuk mengendalian penggerek batang lada. Pestisida biologi TOP BN aman bagi manusia sehingga tidak perlu menggunakan masker

Ancaman busuk pangkal batang dan penggerek batang merupakan momok bagi petani lada / merica/ sahang. Selain menurunkan produktifitas juga meningkatkan risiko gagal panen.
Lanjutkan membaca Aplikasi Pestisida Biologi / Agens Hayati Pada Tanaman Lada