Genjot Produksi Beras dengan Pemupukan Berimbang

PURWOREJO (KRjogja.com) - Memupuk kegiatan utama dalam pertanian. Tentu usaha menyuburkan tanaman itu bertujuan menghasilkan panen melimpah. Namun seringkali ditemukan, petani mengeluhkan turunnya hasil panen, padahal sudah memupuk tanamannya. Jika dikaitkan dengan pupuk, ada faktor yang paling berpengaruh, yakni dosisnya melebihi aturan. Petani menerapkan metode pemupukan yang tidak berimbang. Pemupukan secara berlebih itu dinilai sebagai warisan kebiasaan lama. Penggunaan pupuk kimia mulai menjadi booming pada akhir dekade 70-an dan awal 1980. Indonesia berhasil surplus beras dan kondisi itu salah satunya karena penggunaan pupuk kimia. Petani terus menggunakan pupuk kimia, padahal tanpa disadari grafik produksi mengalami penurunan. Tetapi bukannya menghentikan pupuk kimia, petani justru menambah dosis. “Itulah yang saya tahu mengapa petani turun-temurun menggunakan pupuk kimia dalam jumlah banyak, khususnya urea,” tutur Setiawan Edi Susanto (43), petani padi di Desa Keponggok Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo, kepada KRjogja.com, Jumat (22/08/2014). Menurutnya, petani senang jika tanaman padi tumbuh subur dengan warna daun hijau cerah. Petani menggunakan urea hingga 300 kilogram untuk setiap hektare sawah. Mereka tidak menyadari tingginya risikonya. “Akhirnya hasil panen memang begitu-begitu saja, satu hektare maksimal hanya 6,5 ton gabah basah. Itupun kalau tanaman selamat dari serangan hama,” ucapnya. Padahal, proses budidaya padi di wilayah pesisir Purworejo tidak pernah luput dari hama dan organisme pengganggu tanaman. Setiawan mengaku pernah mendapat hasil panen jauh lebih rendah dari 6,5 ton. Pelan-pelan, petani di Keponggok mulai sadar jika cara yang selalu mereka terapkan tidak sepenuhnya tepat. Memang belum semuanya terbuka, namun semangat mengubah nasib dengan menerapkan pola budidaya yang tepat semakin menguat. Terlebih setelah tim dari PT Petrokimia Gresik melakukan sosialisasi pemupukan berimbang pada awal tahun 2014. Pemupukan berimbang adalah usaha menyuburkan dengan mencukupi unsur makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. Unsur makro adalah nutrisi yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar, yakni nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Sementara unsur mikro sedikit dibutuhkan tanaman seperti besi (Fe) atau brom (Br). Kepala Desa Keponggok Dwi Ari Ambarwati mengemukakan, petani desanya tidak mudah percaya dengan berbagai teori yang diajarkan penyuluh dari perusahaan, bahkan pemerintah. Mereka menganggap ajaran itu isapan jempol jika tidak disertai bukti. “Itulah yang dilihat Petrokimia, sehingga mereka membuat demplot pemupukan berimbang pada lahan seluas 1,3 hektare,” ujarnya. Petani belajar teknik pemupukan berimbang dengan metode 5 : 3 : 2, komposisinya 500 kilogram pupuk organik, 300 phonska dan 200 urea untuk setiap hektare sawah. Tidak hanya soal pemupukan, mereka juga mendapat ilmu penanganan serangan hama dan penyakit tanaman. Tim dari Petrokimia melakukan pendampingan sejak tanam hingga panen. Menurutnya, penerapan metode itu langsung berhasil dengan meningkatnya hasil panen. “Setiap hektare sawah yang dipupuk berimbang menghasilkan 7,2 ton gabah basah. Naik signifikan dibandingkan dengan pemupukan serampangan,” ungkapnya. Petani semakin yakin metode itu memberikan keuntungan secara ekonomi. Selain itu, pemupukan berimbang berdampak positif mengembalikan kesuburan sawah. “Puluhan tahun hanya dipupuk kimia, sawah kehilangan kesuburannya, lumpur jadi dangkal, pertumbuhan tanaman jelek. Petani Keponggok punya mimpi beberapa tahun lagi sawah kembali subur seperti zaman kakek-nenek kami,” paparnya. Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Peternakan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Kabupaten Purworejo Ir Eko Anang SW mengemukakan, penggunaan pupuk urea berlebih meningkatkan risiko kegagalan panen. Unsur N dalam urea memang membuat tanaman semakin subur, tetapi gabah yang dihasilkan tidak maksimal. Padi juga rentan terserang hama kresek atau bakteri hawar daun. “Jika sudah kena kresek, produktivitas padi dipastikan turun karena hama menyebabkan bulir menjadi gabuk, kosong tidak berisi beras,” tegasnya. Pemupukan berimbang berguna untuk meningkatkan daya tahan tanaman dari serangan penyakit. “Sejak dimulai program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) sekitar tahun 2008, pemerintah dibantu produsen pupuk juga mulai sosialisasi metode pemupukan berimbang,” terangnya. Agar hasilnya semakin optimal, kata Eko Anang, petani boleh mengubah dosis dengan menambah pupuk organik lebih dari lima kuintal. Penggunaan pupuk organik dalam jumlah banyak tidak merusak, justru mempercepat kembalinya kesuburan sawah. Pemupukan berimbang diaplikasikan sejak proses olah tanah dengan menyebar 500 pupuk organik, kemudian dibajak untuk meratakan. Pemupukan kedua dilakukan saat tanaman berumur 14 hari dengan komposisi 300 kilogran Phonska dan 150 kilogram urea. Sisa 50 kilogram urea ditebar ketika padi masuk fase pengisian bulir. Berdasar pengamatan dinas, pemupukan berimbang sudah diterapkan pada kurang lebih 60 persen hamparan sawah di Purworejo. Petani yang menerapkan menikmati hasil dengan meningkatnya panen kurang lebih 20 % - 30 %. Pemerintah tidak akan berhenti melakukan sosialisasi karena masih banyak petani yang belum paham dan memupuk secara berlebih. Selain itu, usaha membuat pupuk organik secara mandiri juga turut dikampanyekan sebagai solusi ketika terjadi kelangkaan pupuk buatan pabrik. Menurutnya, usaha itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Stake holder pertanian seperti pihak swasta dan petani harus bersama mendukung pemupukan berimbang. “Kami tidak sendiri karena ada Petrokimia yang membantu sosialisasi dan mengucurkan bantuan. Kampanye itu harus sukses karena Purworejo adalah penyangga beras utama Jawa Tengah,” tandasnya. (Jarot Sarwosambodo)

Pemupukan pada budidaya padi menjadi salah satu metode yang kini mulai dikenal oleh petani. Dengan metode pemupukan ini, diharapkan selain mendongkrak produksi gabah, juga menjaga kelestarian tanah dan lingkungan. Apalagi jika metode pemupukan berimbang ini dibarengi dengan penggunaan pestisida biologi atau agens hayati untuk pengendalian hama dan penyakit. (tim agrokompleks MMC)

Lihat juga dan silahkan unduh : Modul budidaya padi dengan pupuk berimbang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *