Arsip Kategori: perkebunan

Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai; mengolah, dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat.Tanaman yang ditanam bukanlah tanaman yang menjadi makanan pokok maupun sayuran untuk membedakannya dengan usaha ladang dan hortikultura sayur mayur dan bunga, meski usaha penanaman pohon buah masih disebut usaha perkebunan. Tanaman yang ditanam umumnya berukuran besar dengan waktu penanaman yang relatif lama, antara kurang dari setahun hingga tahunan.
Perkebunan dibedakan dari agroforestri dan silvikultur (budidaya hutan) karena sifat intensifnya. Dalam perkebunan pemeliharaan memegang peranan penting; sementara dalam agroforestri dan silvikultur, tanaman cenderung dibiarkan untuk tumbuh sesuai kondisi alam. Karena sifatnya intensif, perkebunan hampir selalu menerapkan cara budidaya monokultur, kecuali untuk komoditas tertentu, seperti lada dan vanili. Penciri sekunder, yang tidak selalu berlaku, adalah adanya instalasi pengolahan atau pengemasan terhadap hasil panen dari lahan perkebunan itu, sebelum produknya dipasarkan. Perkebunan dibedakan dari usaha tani pekarangan terutama karena skala usaha dan pasar produknya.
Perkebunan dapat mengusahakan tanaman keras/industri seperti kakao, kelapa, dan teh, atau tanaman hortikultura seperti pisang, anggur, dan anggrek. Dalam pengertian di Indonesia , “perkebunan” mencakup plantation atau orchard.
Perkebunan tropika dan subtropika
Di daerah tropika dan subtropika, perkebunan mencakup komoditas tanaman semusim maupun tahunan.
Tanaman semusim adalah tanaman yang hanya mampu tumbuh selama semusim pada tahun tersebut, atau tanaman tahunan yang biasa dipanen cepat sebelum musim berakhir. Jenis tanaman perkebunan semusim tidaklah sebanyak tanaman perkebunan tahunan. Contoh tanaman industri semusim yaitu: Serat henep, dari tanaman Cannabis sativa, Serat kapas, dari beberapa spesies kapas,ossypium spp.Serat kenaf, dari batang Hibiscus cannabinus,Serat goni dan bunga rosela, dari tanaman Hibiscus sabdariffa Serat sisal, dihasilkan dari daun tanaman sisal, Agave sisalana, Serbuk indigo, dihasilkan dari tanaman tarum, Indigofera tinctoria. Gula tebu, dihasilkan dari perasan batang tebu dan produk sampingannya (dapat pula dibudidayakan secara tahunan)Daun tembakau, dihasilkan dari tanaman tembakau, Nicotiana spp.Tanaman industri tahunan Tanaman tahunan adalah tanaman yang mampu tumbuh lebih dari dua tahun,yaitu:Karet, dari getah (lateks) tanaman para (Hevea brasiliensis),Kopra dan produk-produk lainnya dari kelapa, Minyak sawit, minyak inti sawit, dan produk-produk lainnya dari kelapa sawit,Kulit dan batang kina, dihasilkan oleh beberapa jenis Cinchona spp.Biji dan bubuk kopi, dihasilkan dari kebun Coffea spp.biji dan serbuk kakao, dihasilkan oleh tanaman kakao, Theobroma cacao,Teh, dihasilkan dari pemrosesan daun teh, Camellia sinensis
Terdapat pula produk tanaman industri tahunan lain yang ditanam dengan skala kecil dan kurang intensif, tetapi dikumpulkan lalu diolah sebagai produk perkebunan. Komoditas ini biasanya merupakan “perkebunan rakyat” dan perbedaannya dengan usaha tani pekarangan menjadi kabur. Berikut adalah beberapa di antaranya:Biji pala dan salut bijinya (fuli), dari kebun pala (Myristica fragrans), Buah dan bubuk merica, dihasilkan oleh tanaman lada, Piper nigrum,Serat kapuk, dihasilkan dari tanaman kapuk Ceiba pentandra, Kacang mete, dihasilkan oleh tanaman mete, Anacardium occidentale,Bunga, daun, dan minyak cengkeh, dihasilkan oleh tanaman cengkeh, Syzigium aromaticum, Kulit manis, dihasilkan dari kulit batang/cabang beberapa jenis Cassia, Minyak sitronela, dihasilkan dari ekstrak batang semu sitronela, Cymbopogon spp,Bubuk vanili, dihasilkan dari pengolahan buah vanila, Vanilla planifolia,”Buah” kemukus, dihasilkan dari tanaman kemukus, Piper cubeba,”Buah” cabe jawa, dihasilkan dari tanaman cabe jawa, Piper retrofractum dan Piper longum
Tanaman hortikultura:Buah apel, Buah durian, Buah mangga, Buah nanas,Buah pisang,Buah rambutan,Buah aprikot,Buah persik, Buah zaitun.

Budidaya Kopi Teknologi organik mmc.

I.Syarat  Tumbuh.

Tanaman  Kopi  berasal  dari benua Afrika, tepatnya dari propinsi Kaffa, Etiopia. Tanaman kopi pertama kali diperkenalkan di Indonesia tahun 1696 – 1699 oleh VOC.

kebun kopi juga dapat jadi ajang agrowisata kopi
kebun kopi juga dapat jadi ajang agrowisata kopi

Kopi merupakan tanaman tropika yang tumbuh di daerah antara 250 LU dan 25 0 LS.Temperatur ideal untuk kopi arabika berkisar 15 – 240 C dan untuk robusta 24 – 300 C.Untuk memenuhi syarat temperatur tersebut kopi arabika ditanam 1000 – 1.700 m dpl, sedangkan robusta pada ketinggian 400 – 700 m dpl. Kopi arabika yang ditaman pada ketinggian di bawah 1000 m dpl tidak cocok karena rentan  serangan penyakit karat daun. Curah hujan ideal untuk kopi berkisar 1500 – 3000 mm per tahun, dengan curah hujan yang rendah saat perkembangan primordia bunga hingga bunga mekar.Kopi menghendaki sinar matahari teratur namun perlu tanaman pelindung.

Tekstur tanah ideal untuk tanaman kopi adalah kelas geluhan dengan struktur remah, kadar bahan organik lebih dari 3,5 % dengan pH 5,5 – 6,5.

  1. Jenis Tanaman Kopi.

Ada empat spesies kopi yang pernah dikembangkan di Indonesia yaitu : kopi arabika, kopi robusta, kopi liberika dan ekselsa. Kopi liberika dan ekselsa tidak dikembangkan lagi karena kurang mempunyai nilai ekonomis yaitu  rendemen rendah.

Kopi arabika yang ada di Indonesia terdiri atas beberapa tipe yaitu : tipe Tipika, Abessinia, Lini S dan Catimor. Kopi arabika tipika dan abessinia ditanam di dataran tinggi ijen.

Jenis kopi arabika yang dikembangkan ada dua tipe. Tipe tinggi (tall) yaitu : S 795, USDA 762 dan tipe katai (dwarf) yaitu : Andungsari1, Karika 1, Kartika 2. Kopi arabika biasanya diperbanyak secara generatif dengan biji karena sifatnya menyerbuk sendiri

Jenis Kopi robusta yang banyak dibudidayakan adalah seri BP yaitu BP 42, BP 358, BP 409, Seri SA yaitu SA 203, SA 237, seri Rob Bgn yaitu : Rob Bgn 300, Rob Bgn 371.Kopi Robusta dikembangkan secara vegetatif, maka bahan tanaman kopi berupa klon unggul.

III.Budidaya.

modul budidaya kopi dengan teknologi mmc - edisi I april 2017
modul budidaya kopi dengan teknologi mmc – edisi I april 2017

1.Penanaman dan pemeliharaan tanaman pelindung.

Tanaman kopi menghendaki intensitas sinar matahari tidak penuh namun teratur yaitu dengan bantuan tanaman pelindung. Tanaman pelindung yang biasa dipakai adalah dadap (Erythrina lithosperma), lamtoro (Leucaena sp), sengon laut (Albizzia falcata).

Tanaman pelindung ditanam saat musim hujan. Sengon ditanam 3 – 4 tahun sebelum penanaman kopi, sendangkan lamtoro ditanam 2 tahun sebelum penanaman kopi.

2.Persiapan lahan.

Setelah lahan bersih dari tunggul selanjutnya dilakukan pengolahan tanah, perbaikan teras, jalan serta saluran drainase yang rusak. Lahan ditanami tanaman penutup tanah dan tanaman pelindung.

  1. Penanaman.

Penanaman kopi dilakukan jika pohon pelindung sudah cukup rindang. Dibuat lubang tanam 3- 6 bulan sebelum tanam dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm.Jarak tanam yang ideal untuk kopi arabika adalah 2,5 m x 2,5 m sedangkan kopi robusta adalah 2,75 m x 2,75 m.

  1. Pemupukan.
Umur Tanaman (tahun) Urea (gram) SP 36 (gram) KCl (gram) Jumlah Aplikasi

(setahun)

1 30 30 30 Dua kali
2 60 45 60 Dua kali
3 90 60 90 Dua kali
4 120 60 120 Dua kali
5 – 10 180 90 180 Dua kali
Diatas 10 270 135 225 Dua kali

 

Dosis Pemupukan Pupuk Organik adalah

 

Umur (Bulan) Pupuk Organik Padat

MOSA GOLD (gr/pohon)

Pupuk Organik Cair

AGRITECH

(ml/pohon)

Hormon Organik

HORTECH

(ml/pohon)

1 5 5 1
3 5 5 1
5 5 5 1
8 5 5 1
12 10 10 2
16 10 10 2
20 10 10 2
24 10 10 2
28 10 10 2
32 10 10 2

 

Catatan : Konsentrasi penyemprotan Pupuk Oragnik Cair dan Hormon Organik adalah

  1. AGRITECH: umur 1 – 8 bulan 5 tutup per tangki 15 liter, umur 12 – 32 bulan 10 tutup per tangki 15 liter.
  2. HORTECH : umur 1 – bulan 1 tutup per tangki 15 liter, umur 12 -32 bula 2 tutup per tangki 15 liter.

Satu tutup AGRITECH dan HORTECH : 10 ml.

  1. Aplikasi dilakukan setahun2 kali yaitu awal musim penghujan dan akhir musim penghujan.

 

  1. Pemeliharaan.
  2. Penyulaman.

Bila terdapat tanaman yang mati atau gagal tumbuh selambatnya 6 bulan setelah tanam harus diganti dengan bibit yang sudah disiapkan.

b.Pemangkasan.

Ada empat tahapan dalam pemangkasan kopi yaitu :

Pangkas tajuk yang bertujuan untuk membentuk kerangka pohon sehingga pohon tidak terlalu tinggi, cabang kuat,arah menyebar, produkif.

Pangkas pemeliharaan bertujuan untuk membuang cabang yang idak dikehendaki, cabang yang sakit, dan cabang yang tidak produkif.

Pemangkasan cabang primer bertujuan untuk merangsang terbentuknya cabang sekunder dan mencegah pertumbuhan cabang primer yang terlalu panjang sehingga tanaman menghasilkan buah yang banyak dan kontinyu.

Pangkas peremajaan dilakukan terhadap tanaman yang sudah tua, produksi kurang dari 400 kg/Ha/tahun dan bentuk tajuk  tidak menentu.

  1. Pengendalian gulma.

Areal tanaman kopi sebaiknya bersih dari gulma terutama derah piringan tanaman. Pengendalian gulma di luar daerah pinggiran dapat dilakukan dengan penanaman penutup tanah. Pengendalian gulma di daerah piringan dilakukan  manual dengan alat kored.agar akar tidak terputus. Sedangkan diluar daerah piringan bisa dengan cangkul.

  1. Pengendalian Hama Penyakit.

1.Hama :

a.Penggerek buah kopi (Stephanoderes hampei).

Penggerek buah kopi berupa kumbang berukuran 0,7 – 1,7 mm. Badannya bulat dengan kepala berbentuk segi tiga yang diutupi oleh rambut halus.Gejala serangan yaitu terdapat lubang gerekan pada biji kopi yang sudah cukup keras.

Pengendalian dengan cara mekanis yaitu dengan melakukan :

-Rempesan: memetik buah kopi hingga bersih termasuk buah yang masih muda.

-Lelesan : mengambil buah yang jatuh karena terserang hama atau karena pemetikan.

-Petik bubuk : pengambilan buah kopi yang berlubang bersamaan dengan pemangkasan.

b.Penggerek cabang coklat dan hitam.

Hama berupa kumbang kecil dengan menyerang buah dan ranting dengan cara menggerek. Kumbang hidup diliang gerekan. Serangan hama ini bisa diperparah dengan serangan  jamur Diplodia dan Fusarium.

Pengendalian dengan cara mekanis yaitu dengan memangkas bagian yang terserang kemudian dibakar. Untuk mengurangi kelembaban dilakukan pemangkasan naungan saat musim penghujan.

2.Penyakit :

a.Jamur upas.

Serangan jamur upas disebabkan oleh jamur Corticium salmonicolor. Patogen menyerang bagian bawah cabang dan ranting dengan gejawa awal ditandai adanya miselim tipis pada ranting atau cabang.

Pengendalian secara mekanis dilakukan dengan memangkas tanaman kopi maupun tanaman pelindung secara teratur. Pengendalian dengan agens hayati yaitu dengan BIO SPF  dengan bahan aktif Pseudomonas fluorescent.. BIO SPF 100 gr dicampur dengan 50 liter air.. Aplikasi dikocor disekitar akar serabut. Dosis 100 gr BIO SPF  digunakan untuk tanaman kopi seluas 1000 m2.

b.Karat daun.

Serangan karat daun disebabkan oleh jamur Hemileia vastatrix.Gejala awal yaitu adanya bercak kuning pada daun. Bila serangan berlanjut bercak semakin besar dan menyatu. Daun mengering mulai dari pusat bercak. Pada serangan berat semua daun gugur dan tanaman mati.

Pengendalian secara mekanis dilakukan dengan memangkas tanaman kopi maupun tanaman pelindung secara teratur. Pengendalian dengan agens hayati yaitu dengan BIO SPF  dengan bahan aktif Pseudomonas fluorescent.. BIO SPF 100 gr dicampur dengan 50 liter air.. Aplikasi dikocor disekitar akar serabut. Dosis 100 gr BIO SPF  digunakan untuk tanaman kopi seluas 1000 m2.

  1. Panen.

Panen buah kopi dibedakan menjadi 3 yaitu : petik pendahuluan, petik merah, dan petik hijau.

Petik pendahuluan adalah memetik buah yang terkena serangan bubuk kopi, yang berwarna kuning sebelum umur 8 bulan. Petik pendahuluan biasanya dilaksanakan pada bulan Februari – Maret. Buah yang dipanen langsung dijemur dan diolah secara kering.

Petik merah diakukan saat panen raya, yaitu pada bulan Mei – Juni. Panen raya berlangsung selam 4 – 5 bulan. Buah hijau yang terbawa saat panen dikumpulkan tersendir.

Panen hijau atau lacutan dilakukan jika buah di pohon sekitas 10 %.Semua buah yang tersisa baik yang merah maupun yang hijau dipetik. Buah yang berwarnamerah dipisahkan dari yang hijau.

  1. Pascapanen.

Kopi yang sudah dipetik segera diproses dan tidak boleh dibiarkan lebih dari 12 – 20 jam.

Buah kopi warna merah dilakukan pengolahan basah melalui 7 tahapan yaitu : sortasi gelondong, pulping, fermentasi, pencucian, pengeringan, hulling, dan sortasi biji.

1.Sortasi gelondong unuk memisahkan biji kopi merah sehat dengan kopi hampa dan terserang bubuk. Sortasi dilakukan daam bak air dengan kran air masuk dan keluar.Gelondong yang terapung disendirikan.

2.Pulping bertujuan memisahkan biji dari kulit buahsehinga didapatkan biji kopi yang masih berkuli tanduk.

3.Fermentasi bertujuan untuk membantu melepaskan lapisan lendir yang menyelimuti kopi setelah keluar dari mesin pulper.

4.Pencucian bertujuan untuk menghilangkan seluruh lapisan lendir yang masih menempel setelah fermentasi.

5.Pengeringan dilakukan dengan dijemur dibawah terik matahari atau dengan pengering buatan.Biji kopi setelah dicuci berkadar air 53 – 55 %, pengeringan bertujuan agar biji kopi bisa mencapai kadar air 8 – 1- %.

6.Hulling dilakukan agar biji kopi terpisah dari kulit tanduk.

  1. Sortasi biji adalah pemilahan atau klasifikasi berdasarkan mutunya.

Kopi yang sudah disortir  dimasukkan dalam karung yang bersih dan dijahit.Penyimpanan dilakukan di ruangan dengan sirkulasi udara yang baik, suhu 20 0C – 25 0 C. Karung dileakkan diatas palet setinggi 10 cm.

 

Hama dan Penyakit utama pada tanaman kelapa Sawit

Hama dan Penyakit utama pada Sawit

Sebagian besar hama yang menyerang adalah golongan insekta atau serangga. Sedangkan penyakit yang menyerang tanaman sawit umumnya disebabkan oleh jamur, bakteri dan virus.

Hama Tungau

Tungau yang menyerang pada sawit ini adalah jenis Tungau merah (Oligonychus). Tungau merah (Oligonychus) yang panjangnya 0,5 mm. Hidupnya disepanjang tulang anak daun sambil mengisap cairan daun. Hama ini menyebabkan dan berkembang pesat dalam keadaan cuaca kering dimusim kemarau.

Gejala ; daun yang diserang berubah warna dari hijau menjadi perunggu mengkilat (bronz). Pesemaian atau pembibitan mengalami kerusakan.

Pengendalian ; Pengamatan rutin dan penyemprotan dengan TOP BN  / MOSA BN. 1 sachet MOSA BN/ TOP-BN (100gr) digunakan untuk luasan lahan sawit 1000m². Penyemprotan dilakukan pada sore hari.

Hama Ulat Setora

Ulat setora atau Setora nitens Walker (Lepidoptera, Limacodidae). Hama ini menyerang tanaman yang belum dan sudah menghasilkan terutama pada umur 2 – 8 tahun. Ulat
dewasa panjangnya mencapai 40 mm.

hama ulat setora pada sawit
hama ulat setora pada sawit

Siklus hidupnya
sekitar 2 bulan dengan masa penetasan 6 hari, stadia larva
berlangsung 30 hari ( 8-9 instar) dan masa pupa 23 hari.
Tingkat populasi kritis pada pelepah daun ke 17 pada
tanaman muda dan pada pelepah 25 pada tanaman
dewasa masing-masing 5 dan 8 -10 ekor/pelepah.

 

Pengendalian ; Pengamatan rutin dan penyemprotan dengan TOP BN  / MOSA BN. 1 sachet MOSA BN/ TOP-BN (100gr) digunakan untuk luasan lahan sawit 1000m². Penyemprotan dilakukan pada sore hari.

Hama Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)

Hama nematoda menyebabkan penyakit cincin merah. Kerusakan internal biasanya terlihat setelah 2-3 minggu setelah nematoda menginfeksi jaringan tanaman; sedangkan kerusakan eksternal terlihat hingga 2 bulan setelah infeksi. Gejala pada batang berupa adanya garis melingkar berwarna merah pada jaringan batang. Gejala pada daun berupa berkurangnya dalam ukuran, morfologi daun menjadi berdiri kaku tegak, nekrosis, petiol daun menguning hingga keabuan.
Imago betina  panjangnya 1 mm, ramping, arkuata hampir lurus saat santai, kutikula tipis, terdapat vulva pada bagian pinggiran daerah abdomen. Imago jantan: tubuh ventral arkuata, pada bagian ekor lebih melengkung, testis tunggal, spikula berpasangan.

Seluruh siklus hidup nematoda berlangsung di dalam jaringan tanaman. Nematoda cincin merah ini dapat menginfeksi baik pada jaringan maupun daun. Di dalam jaringan daun, nematoda menghambat pergerakan suplai air. Nematoda cincin merah dapat bertahan selama 7 hari di dalam tanah dan 90 minggu di dalam jaringan benih. Pemencaran terjadi karena adanya penggunaan alat pertanian yang tidak steril ketika memangkas batang.

Pengendalian ; diracun dengan natrium arsenit.

Hama Kumbang tanduk

richtes renocheros hama kumbang tanduk yang dikenalikan dengan agens hayati mosa meta supermeta dari semenjak larva atau uret
richtes renocheros hama kumbang tanduk yang dikenalikan dengan agens hayati mosa meta supermeta dari semenjak larva atau uret

Kumbang tanduk Oryctes rhinoceros L  atau  Rhinoceros beetle, disebut juga wungwung kelapa, kumbang badak dan ampal (Jawa). Hama ini selain menyerang kelapa sawit, juga menyerang kelapa. Hama ini menyebabkan daun terpotong membentuk seperti segitiga.

Telur yang dihasilkan sebanyak 50 butir per imago betina. Larva panjangnya 10-12 cm, hidup pada serasah tanaman, proses penguatan gigi terjadi pada sisa tanaman kelapa yang mati. Telur yang menetas akan menjadi nimfa dan naik ke pohon kelapa. Pupa dilindungi oleh kokon, diletakkan di dalam tanah, kurang lebih 30 cm. Pada umumnya imago aktif pada saat senja dan terbang mengelilingi mahkota bunga.

Pengendalian ; dengan agens hayati SuperMeta / MOSA META. Cara aplikasinya adalah :

1) Dicampurkan dalam media pupuk kandang jadi, kompos, dengan memberi kesempatan jamur Metharisium berkembang di media tersebut sekitar 2 minggu sebelum media siap digunakan sebagai pupuk dasar.

2) Dikocorkan di sekitar perakaran tanaman, pada sore hari.

atau 3) Disemprotkan pada jalur tanam (guludan) dibawah mulsa untuk menambah jumlah agens hayati di tanah sehingga memperbesar peluang uret bersinggungan langsung dengan spora jamur yang akan menginfeksinya.

1 sachet (100 gr) Supermeta / MOSA META cukup untuk mengendalikan hama kumbang tanduk pada luasan sawit 1.000m². Aplikasi diulang 4 bulan sekali untuk mengendalikan hama kumbang tanduk yang datang dari lahan lain.

Hama Penggerek Tandan Buah

Penggerek tandan buah atau Tirathaba sp, merupakan serangga hama yang menyerang menyerang tanaman kelapa sawit. Serangan penggerek tandan buah dijumpai di suatu areal tanaman sawit yang sudah mulai berbuah. Pembentukan buah yang terjadi secara terus-menerus merupakan salah satu faktor pendorong perkembangan populasi hama ini. Pada areal kelapa sawit hama ini menyerang tandan buah dengan fruitset rendah atau terlewat di panen. Tanaman kelapa yang terserang hama ini adalah tanaman kelapa yang masih aktif berproduksi, baik yang berumur muda ataupun telah tua.

Gejala Serangan; Tirathaba sp. banyak menyerang tanaman sawit tua ataupun muda, asalkan masih aktif memproduksi buah. Larva merusak dengan memakan dimulai pada bagian ujung buah yang masih kecil (bakal buah) dan menggerek ke dalam. Serangan hama ini menyebabkan buah muda gugur. Jika menyerang titik tumbuh pada pertanaman muda, maka akan terjadi kerusakan. Serangan yang parah menyebabkan layu dari titik pertumbuhan dan perkembangan tanaman terlambat. Gejala serangannya berupa bekas gerekan yang ditemukan pada permukaan buah. Bekas gerekan tersebut berupa faeces dan serat tanaman. Larva menutupi bagian bekas gerekan dan kotoran dengan benang-benang liur larva yang dihasilkannya. Larva sangat aktif dan bergerak cepat ketika merasa terganggu. Pada serangan baru, bekas gerekan masih berwarna merah muda dan larva masih aktif di dalamnya. Sedangkan pada serangan lama, bekas gerekan berwarna kehitaman dan larva sudah tidak aktif karena larva telah berubah menjadi kepompong.

 Pencegahan dan pengendalian; Pengendalian secara organik/hayati adalah dengan menggunakan jamur entomopatogen seperti jamur Beuveria bassiana dan Noumeria rileyi yang terdapat pada TOP BN/MOSA BN.

Caranya, 1 sachet MOSA BN/ TOP-BN (100gr) digunakan untuk luasan lahan sawit 1000m². ± 3 sendok (30 gr) MOSA BN/TOP BN dicampur dalam tangki semprot 14 liter dan disemprot pada tempat-tempat yang dimungkinkan menjadi sarang hama penggerek tandan buah. Penyemprotan dilakukan pada sore hari.

Hama Ulat Api

Gejala serangan ulat api pada kelapa sawit umumnya sama, yaitu rusaknya daun tanaman. Gejala serangan dimulai dari daun bagian bawah. Larva akan memakan helaian daun mulai dari tepi hingga helaian daun yang telah berlubang habis, tinggal menyisakan tulang daun atau lidi. Bagian daun yang disukai ulat api adalah anak daun pada ujung pelepah. Akibatnya tanaman terganggu proses fotosintesisnya karena daun menjadi kering, pelepahnya menggantung dan akhirnya berdampak pada tidak terbentuknya tandan selama 2-3 tahun.

Ulat api terkenal sangat rakus. Dalam sehari mampu memakan 300-500 cm daun kelapa sawit. Batas ambang ekonomi (AE) untuk ulat api adalah 5-10 ekor. Ini berarti bila dalam 1 pohon ditemukan sedikitnya 5 ekor larva, maka pengendalian perlu segera dilakukan.

Pencegahan dan pengendalian secara organik/hayati adalah dengan menggunakan jamur entomopatogen seperti jamur Beuveria bassiana dan Noumeria rileyi yang terdapat pada TOP BN/MOSA BN.

Caranya, 1 sachet MOSA BN/ TOP-BN (100gr) digunakan untuk luasan lahan sawit 1000m². ± 3 sendok (30 gr) MOSA BN/TOP BN dicampur dalam tangki semprot 14 liter dan disemprot pada tempat-tempat yang dimungkinkan menjadi sarang hama penggerek tandan buah. Penyemprotan dilakukan pada sore hari.

Penyakit Ganoderma

Penyakit ini juga dikenal dengan penyakit busuk pangkal batang pada kelapa sawit disebabkan oleh cendawan ganoderma boninense.

Sesungguhnya yang sakit adalah lahan pertanaman, sehingga meskipun bibit kelapa sawit yang ditanam bebas dari inokulum ganoderma, namun bila ditanam pada areal yang sudah terinfeksi ganoderma dalam kualitas dan kuantitas yang tinggi maka tanaman tersebut akan terserang juga (Menurut Dr. Darmono Tani Wiryono – pakar ganoderma biotek perkebunan).

Pengendalian ; lebih bersifat tindakan preventif dalam menekan laju infeksi ganoderma. Perlakukan pada awal pembibitan kelapa sawit dengan MOSA GLIO /Superglio yang mengandung bahan aktif cendawan thrichoderma harzianum sp dan gliocladium sp untuk meningkatkan pertahanan tanaman terhadap penyakit BPB pada sawit.

Cara Aplikasi :  1 sachet MOSA GLIO/Superglio untuk 5 sd 10 batang. Karena perakaran sawit luas, dan masuknya penyakit bukan hanya di batang melainkan dari berbagai arah, maka pengocoran dilakukan merata dari batang sampai  radisu 1- 2 meter dari batang. Sehingga kebutuhan campuran ini kira-kira 5 liter per batang.Tindakan pengocoran ini bisa diulangi tiap 4 bulan pada tahun pertama, untuk tahun selanjutnya frekuensi aplikasi bisa dikurangi, karena cendawan thrichoderma dan gliocladium kemungkinan sudah banyak berkembang biak di tanah.

Penyakit Root Blas

Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp; Pencegahan : pemberian MOSA GLIO/SUPER GLIO

Penyakit Garis Kuning

Penyebab: Fusarium oxysporum ;

pencegahan: pemberian MOSA GLIO/SUPER GLIO semenjak awal.

Penyakit Dry Basal Rot

Penyebab: Ceratocyctis paradoxa yang menyerang bagian batang ;

Pengendalian : Pengocoran bibit/ tanaman dengan BIO-SPF.

Penyakit Bud Rot

Penyebab: bakteri Erwina

Pengendalian: belum ada cara efektif yang ditemukan dalam pemberantasan penyakit ini. Untuk pencegahannya yaitu menjaga kebersihan (sanitasi) kebun terutama disekitar tanaman dan kocorkan BIO -SPF.

Catatan: Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum bisa mengatasi, dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan.

Panduan Budidaya Kopi Coffea sp

budidaya kopi robusta agribisnis kopi

Tanaman  Kopi  berasal  dari benua Afrika, tepatnya dari propinsi Kaffa, Etiopia.Tanaman kopi pertama kali diperkenalkan di Indonesia tahun 1696 – 1699 oleh VOC. Lanjutkan membaca Panduan Budidaya Kopi Coffea sp

Hama Penyakit pada Budidaya Kopi

Hama Penggerek buah kopi (Stephanoderes hampei / Hypothenemus hampei)

penggerek buah kopi hypotenemus hampei coffee
penggerek buah kopi hypotenemus hampei coffee

Penggerek buah kopi berupa kumbang berukuran 0,7 – 1,7 mm. Lanjutkan membaca Hama Penyakit pada Budidaya Kopi

Hama dan Penyakit pada Budidaya Jambu Biji

Hama Uret / Gayas (Lepidiota stigma)

 Uret pemakan akar, embug, gayas, hama gayas,Hama uret menyerang berbagai tanaman pada lahan tanah  berpasir / gravel.

Lanjutkan membaca Hama dan Penyakit pada Budidaya Jambu Biji

Modul Budidaya Tebu dengan Teknologi MMC

Modul Budidaya Tebu dengan teknologi MMC, e book budidaya tebu dengan teknologi MMC

Tebu bisa dipanen saat mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia banyak dibudidayakan di Jawa dan Sumatera. Selain diolah menjadi gula, tebu juga menjadi bahan baku produk industi. Dengan mulai terbatasnya lahan yang ada, budidaya tebu perlu diintensifkan dan dipadu dengan pengendalian hama penyakit secara terpadu. Lanjutkan membaca Modul Budidaya Tebu dengan Teknologi MMC

Modul Budidaya Buah Naga – dengan Teknologi MMC

agritech hortech mosa gold, buah naga, mosa glio superglio, glio, bio-spf
budidaya buah naga dengan teknologi MMC

Buah naga sangat cocok di lahan kering  dan usianya bisa bertahan sampai 20 tahun. Walaupun sebaiknya dipelihara cukup sampai umur 10 tahunan. Apabila dirawat dengan baik, perpohon bisa menghasilkan buah 3 kg buah. Tentu saja menjadi pertimbangan untuk agribisnis, mengingat harga jualnya yang tinggi dan bisa juga dipadukan dengan agrowisata. Lanjutkan membaca Modul Budidaya Buah Naga – dengan Teknologi MMC

Budidaya buah naga (Hylocereus sp., Selenicereus sp.)

budidaya buah naga
budidaya buah naga

Buah naga berasal dari Meksiko, Costa Rica, dan Amerika Latin.Didaerah asalnya buah ini dinamai pitahaya atau pitaya roja.Pertama kali dikembangkan di Asia di negara Vietnam tahun 1870 dari Guyana. Buah naga termasuk keluarga tanaman kaktus dari marga Hylocereus dan Selenicereus. Lanjutkan membaca Budidaya buah naga (Hylocereus sp., Selenicereus sp.)