Budidaya seledri, Bag III – Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Seledri..

Pengendalian Hama Penyakit

Ulat tanah (Agrotis ypsilon Hufn.)

Serangga dewasa berupa kupu-kupu berwarna coklat-tua dan pada sayap depannya terdapat titik putih dengan garis-garis lurus.

Larva atau ulat berwarna coklat sampai hitam dengan ukuran panjang 4-5 cm. Daur ( siklus ) hidup hama berkisar antara 6-8 minggu.

Gejala serangan :

Stadium hama yang membahayakan atau menyerang tanaman adalah ulat atau larvanya.

Gejala serangan tangkai daun atau pucuk-pucuk tanaman seledri menjadi layu dan terkulai, karena dipotong oleh ulat tanah.

Pengendalian :

Pengendalian non- kimiawi antara lain dengan mengatur pola pergiliran tanaman yang tepat, mencari dan mengumpulkan ulat dari sekitar persembunyiannya untuk segera dibunuh dan menjaga kebersihan kebun dari rumput- rumput liar atau sisa- sisa tanaman.

2.Kutu daun (  Aphis spp.)

Tubuh kutu daun berukuran kecil, panjangnya 1-2 mm, berwarna kuning atau kuning kemerah-merahan, hijau-gelap sampai hitam-suram.

Daur ( siklus ) hidup kutu daun berkisar 14 -18 hari dan bersifat parthenogenesis,yakni beranak pinak tanpa melalui pembuahan sel telurnya.

Gejala serangan :

Hama kutu daun menyerang dengan cara menghisap cairan sel tanaman pada permukaan daun bagian bawah, pucuk taneman ataupun batang muda.

Gejala yang dapat diamati adalah menguninganya daun (pucuk) dan kadang-kadang diikuti dengan keriting daun, sehingga pada tingkat serangan yang berat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat.

Pengendalian :

Pengendalian hama dilakukan dengan penggunaan agens hayati MOSA BN / TOP BN dengan bahan aktif jamur Beauveria bassiana dan Nomuraea rileyi. Jamur ini bersifat entomopathogenik terhadap Aphis spp.

Aplikasi TOP BN dilakukan pada sore hari. TOP BN 30 gr dilarutkan dengan air untuk  tangki ukuran 14 liter air. Penyemprotan diarahkan ke tubuh hama dengan tujuan agar segera terjadi infeksi pada tubuh hama.

Dosis untuk 1000 mdiperlukan TOP BN 1 sachet isi 100 gr.

3.Tungau ( Mites, Tetranychus spp.)

Tubuh tungau berukuran sangat kecil dan bentuknya mirip laba-laba, berwarna merah atau hijau kekuning-kuningan serta mulutnya berwarna putih.

Daur hidup hama sejak telur hingga menjadi tungau dewasa sekitar 15 hari.

Gejala serangan :

Hama tungau menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan sel, hingga menimbulkan gejala bercak-bercak kuning pada daun, kemudian berubah menjadi titik-titik hitam atau coklat. Serangan berat hama ini biasanya terjadi pada musim kering ( kemarau ).

Pengendalian :.

Pengendalian hama dengan agens hayati dilakukan dengan

menggunakan MOSA BN / TOP BN dengan bahan aktif jamur Beauveria bassiana dan Nomuraea rileyi. Jamur ini bersifat entomopathogenik terhadap hama tungau..

Aplikasi MOSA BN dilakukan pada sore hari. MOSA BN 30 gr dilarutkan dengan air untuk  tangki ukuran 14 liter air. Penyemprotan diarahkan ke tubuh hama dengan tujuan agar segera terjadi infeksi pada tubuh hama.

Dosis untuk 1000 mdiperlukan MOSA BN 1 sachet isi 100 gr.

4.Bercak cercospora

Penyebabnya adalah cendawan ( jamur ) Cercospora apii fres.

Gejala serangan :

Pada daun terdapat bercak nekrotis berwarna abu abu dan tidak mempunyai titik hitam. Serangan berat biasanya terjadi pada  cuaca lembab. Pada cuaca lembab  permukaan bercak tampak kelabu karena terbentuk banyak konidiofor jamur Cercospora apii.

Pengendalian :

Pengendalian melalui pengelolaan budidaya dilakukan dengan cara : Menggunakan biji yang sehat,Mengatur jarak tanam yang tepat ( tidak terlalu rapat), Menjaga kebersihan kebun dari sisa tanaman yang sakit, Mengadakan pergiliran tanaman.

Pengendalian penyakit Cercospora dengan agens hayati yaitu dengan BIO SPF dengan bahan aktif bakteri Pseudomonas fluorescent . Satu sendok  (10 gr)  BIO SPF dilarutkan dalam 1 lier air untuk merendam benih selama 2  jam.

bio spf untuk budidaya jambu biji
bio spf untuk budidaya jambu biji

Selanjutnya aplikasi dilakukan saat tanaman berumur 2 minggu dengan penyiraman / kocor pada pangkal batang. Satu sendok (10 gr) BIO SPF dicampur dengan 20 liter air dan dikocorkan pada pangkal batang untuk 150 tanaman.

Satu sachet BIO SPF berisi 100 gr digunakan untuk tanaman seluas 1000 m2.

5.Penyakit non parasit

Penyakit non – parasit yang paling umum diketemukan pada tanaman seledri adalah penyakit kekurangan ( defisiensi ) unsure hara, terutama Natrium, Kalsium, dan Boron.

Gejala serangan :

Gejala kekurangan unsur Natrium adalah kerdilnya pertumbuhan tanaman seledri, Sedangkan bila kekeuranga Kalsium (Ca) Menyebabkan kuncup- kuncup atau pucuk- pucuknya kering.Sementara bila kekurangan unsur Boron menimbulkan gejala retak- retak pada bagian batang dan tangkai- tangkai daunnya. Bahkan akibat retak – retak pada pangkal tangkai daun sering diikuti dengan membusuknya batang seledri.

Pengendalian :

Pengendalian penyakit non parasit ini dapat dilakukan dengan cara pemberian pupuk yang kandungan unsur haranya sesuai dengan gejala defisiensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *