Budidaya Alpukat, Bag III – Pengendalian Hama Dan Penyakit Tanaman Alpukat.

Berikut ini beberap a hama dan penyakit utama pada alpukat

Hama Aphis gossypii Glov.

Hama Aphid adalah kutu yang saat muda tidak bersayap. Namun saat dewasa mempunyai sayap transparan. Warna tubuh hijau tua sampai hitam atau kunig coklat.

Hama ini mengeluarkan embun madu yang biasanya ditumbuhi cendawan jelaga sehingga daun menjadi hitam. Embun madu disenangi semut sehingga banyak yang datang

Hama Aphis gossypii Glov. menyerang banyak jenis tanaman dan sering ditemui. Gejala serangan pertumbuhan tanaman terhambat dan daun menjadi keriting.

Pengendalian dengan agens hayati menggunakan MOSA BN dengan bahan aktif jamur Beauveria bassiana. Penyemprotan dilakukan sore hari dengan dosis 2,5 gram per liter atau 30 gram per tangki isi 14 liter air. Saat dicampur dengan air ditambahkan gula  2 sendok atau Molase.

Penyemprotan dengan insekisida Nabati/Botanik. Ber bahan aktif Metilanol 100 g/l. Dosis penyemrotan 1 – 1,5 ml/l atau 10 ml /tangki 14 liter.

Ulat Kipat  Cricula (Cricula trisfenestrata Helf)

Ulat berwarna hitam dengan spot putih dengan rambut putih. Pupa / kepompong membentuk kokon berupa jaring berwarna sering ditemukan berkelompok membentuk kluster menempel di daun. Kupu betina  dengan bentang sayap 7,5 cm dengan tiga tanda jendela kecil. Kupu tertarik cahaya yang kuat.

Daun yang dimakan ulat seperti terpotong dan terdapat bekas gigitan. Serangan ulat pada stadium lanjut daun habis sama sekali dan tajuk daun menjadi gundul. Tanaman yang terserang tidak akan mati, dan terdapat kepompong bergelantungan.

Pengendalian dengan agens hayati menggunakan MOSA BN dengan bahan aktif jamur Beauveria bassiana. Penyemprotan dilakukan sore hari dengan dosis 2,5 gram per liter atau 30 gram untuk tangki isi 14 liter air. Saat dicampur dengan air ditambahkan gula  2 sendok atau Molase.

Penyemprotan dengan insekisida Nabati/Botanik. Ber bahan aktif Ricinofos 80 gr/l. Dosis penyemrotan 1,5 – 2 ,5 ml/l atau 30 ml /tangki 14 liter.

Kutu dompolan (Pseudococcus citri (Risso) )

Hama berupa kutu Pseudococcus . Dewasa bentuk tubuh oval berukuran 3 mm, berwarna kuninga hingga  coklat kekuningan, tertutup tepung putih, mempunyai tonjolan di tepi tubuh dengan jumlah 14 – 18 pasang. Tonjolan yang panjang pada bagian belakang tubuh.

Kutu dompolan/kutu putih menghisap cairan tanaman pada daun, ranting dan bunga. Bunga dan buah muda yang terserang menjadi gugur.

Pengendalian dengan agens hayati menggunakan MOSA BN dengan bahan aktif jamur Beauveria bassiana. Penyemprotan dilakukan sore hari dengan dosis 2,5 gram per liter atau 30 gram per tangki isi 14 liter air. Saat dicampur dengan air ditambahkan gula  2 sendok atau Molase.

Penyemprotan dengan insekisida Nabati/Botanik. Ber bahan aktif Metilanol 100 g/l. Dosis penyemrotan 1 – 1,5 ml/l atau 10 ml /tangki 14 liter.

Hama Lalat buah ( Dacus dorsalis  Hend.)

Lalat buah mempunyai sayap transparan, mengkilat, dengan  ciri warna kuning pada punggung dan perut. Lalat buah bertelur pada permukaan buah.Telur menetas menjadi larva (belatung) dan hidup di dalam buah, sampai buah rontok dan membusuk. Larva berukuran tidak lebih dari 1 cm. Larva akan keluar ke tanah dan seminggu kemudian berubah menjadi lalat muda.

Tubuh lalat buah berukuran 6 – 8 mm, bentangan sayap 5 – 7 mm. Bagian dada berwarna coklat tua bercak kuning/putih. Bagian perut coklat muda dengan pita coklat tua.

Pengendalian secara Kultur teknis, membungkus buah sejak dini dan melakukan pengasapan pada sore hari untuk mengusir imago/dewasa.

Pengendalian dengan memasang perangkap berupa  atraktan dengan bahan aktif Metil Eugenol.

Codot (Cynopterus sp)

Tubuh hama seperti kelelawar tetapi ukurannya lebih kecil menyerang buah-buahan pada malam hari.

Gejala berupa gigitan pada bagian buah, buah yang digigt berlubang. Buah yang terserang adalah buah yang tua. Bagian buah yang dimakan adalah daging buahnya saja.

Pengendalian dengan menangkap codot menggunakan jala atau menakut-nakutinya menggunakan kincir angin yang diberi peluit sehingga dapat menimbulkan suara.

Penyakit Akar dan Kanker Batang ( Phythophthora palmivora (Butl.) Butl.)

Merupakan penyakit tanaman Alpukat yang sangat merugikan. Penyakit ini disebabkan oleh Phythophthora palmivora (Butl.) Butl.

Tajuk daun tanaman tampak jarang. Daun cenderung menjadi layu walaupun tanah cukup basah, dan daun berwarna lebih muda dari biasanya.

Kulit  pangkal batang  didekat permukaan tanah terjadi perubahan warna. Kulit yang sakit mengeluarkan getah yang akan mengering serperti tepung. Bagian dalam kulit berwarna coklat dan masuk sampai ke dalam kayu

Pengendalian dengan kultur teknis yaitu perbaikan drainase agar air hujan tidak mengalir di permukaan tanah. Menanam tanaman yang tahan terhadap penyakit tersebut. Memangkas daun yang tidak produktif untuk mengurangi kelembaban kebun. Melakukan rotasi tanaman. Melakukan  pemupukan  dengan  pupuk  organik/kandang yang dicampur kapur dan mengupayakan pH tanah 6

Pengendalian dengan agens hayati MOSA GLIO  dengan bahan aktif Gliocladium sp dan Trichoderma sp.

MOSA GLIO 100 gr dicampur dengan pupuk kandang yang matang 50 kg.Campuran diperam selama 5 hari. Cara aplikasi yaitu campuran MOSA GLIO disekitar akar serabut. Dosis 100 gr MOSA GLIO digunakan untuk tanaman Alpukan seluas 1000 m2.

Bercak Daun Cercospora (Cercospora purpurea Cke)

Penyakit disebabkan oleh jamur Cercospora purpurea Cke., dikenal juga dengan Pseudocercospora purpurea (Cke.) Deighton. Jamur mempunyai stroma berwarna gelap. Membenuk konidium jika cuaca lembab. Jamur ini bertahan pada daun dan buah yang sakit.

Gejala pada daun terdapat becak coklat muda dengan tepi berwarna coklat.  Becak berukuran kecil yaitu sekitar 1 mm, bersudut, terpisah atau bersatu mencapai garis tengah 1,5 cm.

Gejala pada buah berupa becak coklat, agak mengendap, dengan garis tengah 3 – 5 mm dengan batas tegas. Bila cuaca lembab, bercak terbentuk bintik-bintik kelabu yang tersusun dari konidiofor dan konidium jamur. Lama – kelamaan akan menjadi celah jalan masuknya organisme lain.

bio spf untuk budidaya jambu biji
bio spf untuk budidaya alpukat

Pengendalian dengan agens hayati yaitu dengan BIO SPF  dengan bahan aktif Pseudomonas fluorescent.. BIO SPF 100 gr dicampur dengan 50 liter air.. Aplikasi dikocor disekitar akar serabut. Dosis 100 gr BIO SPF  digunakan untuk tanaman karet seluas 1000 m2.

8.Penyakit Antraknosa (Colletotrichum gloeosorioides (Penz.) sacc.

Penyakit disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosporioides (Penz.) sacc. yg mempunyai miselium yang semula berwarna muda kemudian menjadi cokleat kehijauan  sampai hitam kelabu. Massa spora berwarna merah jambu

Gejala pada daun terdapat jaringan hawar berwarna cokelat karat. Gejala pada buah mentah terdapat becak coklat dengan bermacam macam ukuran. Becak bisa membesar, bersatu bisa meliputi seluruh permukaan buah. Daun, bunga, buah yang terserang akan gugur.

Pengendalian dengan agens hayati yaitu dengan BIO SPF  dengan bahan aktif Pseudomonas fluorescent.. BIO SPF 100 gr dicampur dengan 50 liter air.. Aplikasi dikocor disekitar akar serabut. Dosis 100 gr BIO SPF  digunakan untuk tanaman karet seluas 1000 m2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *