Budidaya Alpukat, Bag I – Panduan Lengkap Budidaya Alpukat

Panduan Lengkap Budidaya Alpukat

(Persea americana Mill)

A.Daerah Asal dan Manfaat:

Alpukat berasal dari Amerika Tengah dan Meksiko. Dikembangkan di Indonesia pertama kali oleh Belanda pada tahun 1800-an.

Buah yang mengandung protein dan lemak nabati ini memiliki banyak manfaat seperti mencegah risiko terkena penyakit stroke, menjaga kesehatan mata,  membantu mengobati sakit magh, dan membantu menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh.

B.Syarat tumbuh:

1.Jenis tanah.

Tanaman alpukat akan tumbuh optimal di tanah lempung berpasir, lempung liat, dan lempung endapan. Jenis tanah lempung berpasir mempunyai sistem drainase atau pembuangan air yang baik, sehingga saat hujan turun tidak ada genangan air.

Derajat keasaman tanah untuk pertumbuhan alpukat ( pH) yang sesuai yaitu: 5,6 – 6,4. Apabila pH di bawah 5,5 tanaman akan keracunan unsur mikro Fe, Mg dan Al. Sedangkan pada  pH di atas 6,5 beberapa unsur mikro seperti Fe, Mg, dan Zn akan mengalami defisiensi / kekurangan..

2.Ketinggian Tempat (Altitude)

Alpukat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi antara 5 – 1500 m dpl. Namun  tanaman alpukat akan tumbuh optimal pada ketinggian 200-1000 m dpl.

  1. Iklim.

Alpukat cocok ditanam di daerah tropis. Curah hujan minimum untuk pertumbuhan adalah 750 -1000 mm / tahun. Untuk daerah dengan curah hujan kurang, yaitu daerah dengan 2 – 6 bulan kering, tanaman alpukat masih bisa tumbuh dengan baik jika kedalaman air tanah maksimal  2 m.

Suhu udara untuk pertumbuhan alpuka adalah 15 – 30 oC.

Tanaman mebutuhkan angin saat penyerbukan, namun kecepatan angin 62,4 -73,6 km / jam dapat memetahkan ranting dan cabang alpukat.

Kebutuhan cahaya untuk pertumbuhan alpukat adalah 40 – 80 %

C.Varietas Alpukat Unggul :

1.Alpukat Miki.

Alpukat Miki adalah varietas alpukat unggul dataran rendah. Dikembangkan oleh Pusat Kajian Buah-buahan Tropika IPB dengan peneliti Dr. Sobir dan kawan kawan.

Alpukat Miki memiliki sifat yang genjah, yaitu mulai berproduksi pada usia tanam 2 – 3 tahun. Umumnya tanaman alpukat baru akan memasuki fase generatifnya pada usia tanam di atas 5 tahun.

Ukuran buah cukup besar dengan berat 400 – 600 gram / buah. Daging buah tebal warna kuning, bertekstur pulen, rasa manis, dan tanpa rasa getir.

Umumnya tanaman alpukat hanya berbuah sekali dalam setahun, namun  Alpukat Miki dapat berbuah sepanjang tahun, berbuah lebat pada ujung ranting dengan membentuk dompolan.

  1. Alpukat Kendil.

Alpukat Kendil merupakan hasil persilangan antara alpukat dari Kabupaten Kendal dan alpukat Gunung Pati , Kabupaten Semarang. Alpukat ini memiliki ukuran jumbo sebesar telapak tangan orang dewasa.

Alpukat Kendil termasuk jenis genjah, yaitu mulai berbuah pada usia 3 tahun.

Berat buah alpukat Kendil bisa mencapai 1.000 gram. Maka satu pohon alpukat Kendil bisa menghasilkan buah sebanyak 400 kg – 500 kg dalam dua kali panen setahun.

Panen alpukat Kendil biasanya dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Desember-Januari-Februari dan pada bulan Juni-Juli.

Daging buah alpukat kendil sangat tebal dengan biji kecil. Warna daging buah kuning mentega dengan rasa  gurih dan manis.

  1. Alpukat Wina .


Alpokat Wina pertama kali dikembangkan di Desa Jetis Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.

Alpukat ini bersifat genjah. Tanaman dari hasil perbanyakan sambung pucuk dan okulasi bisa berbuah seteah berumur 3 – 4 tahun.

Alpokat Wina bersosok bongsor berbobot  800 – 1000 gram.

Daging buah tebal berwarna kuning mentega. Rasa daging buah Alpukat Wina pulen, lezat tanpa rasa pahit dan tanpa serat. Enak untuk disantap segar tanpa dibuat jus.

D.Perbanyakan Bibit Alpukat

Cara perbanyakan bibit Alpukat secara vegetatif  lebih disukai karena bibit yang dihasilkan memiliki sifat yang sama dengan sifat induknya dan tanaman cepat berbuah

Untuk membedakan bibit hasil vegetatif dengan generatif sangat mudah.  Caranya yaitu dengan melihat hasil okulasi / bekas tempelan di bagian batangnya atau tampak bekas sambungan pada bibit alpukat tersebut.

Tanaman pokok untuk okulasi atau di enten.

Perbanyakan bibit apukat secara vegetatif bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu :

  1. a) Sambung Mata Tunas (Okulasi).

Bibit pangkal yang digunakan untuk okulasi berumur 8 -10 bulan. Mata tunas yang akan diokulasi diambil dari dahan yang sehat berumur 1 tahun, serta matanya tampak jelas.

Okulasi dilakukan bila kulit batang semai mudah dilepaskan dari kayunya. Kulit pohon pokok disayat sepanjang 10 cm, lebar 8 mm. Kulit tersebut dilepaskan dari kayunya dan ditarik ke bawah lalu dipotong 6 cm.

Sebuah mata tunas  disayat dengan sedikit kayu dari cabang mata (enthout) kemudian dilepaskan pelan-pelan tanpa merusak mata.

Kulit yang bermata dimasukkan di antara kulit dan kayu yang telah disayat pada bibit pokok. Sayatan kemudian diikat dengan bahan plastik lentur  dan mata tunas tidak boleh tertutup.

Penempelan / okulasi berhasil apabila dalam waktu 3 – 5 hari mata tunas masih hijau. Tali plastik dibuka setelah 10 – 15 hari.

Batang tanaman pokok dikerat melintang sedalam setengah diameternya, kira-kira 5 – 7,5 cm di atas okulasi, lalu dilengkungkan sehingga pertumbuhan mata dapat lebih cepat. Apabila mata okulasi sudah mencapai tinggi 1 m, bagian pohon pokok yang dilengkungkan dipotong tepat di atas okulasi, lukanya diratakan, kemudian ditutup parafin cair.

Saat perbanyakan vegetatif perlu dijaga kelembaban udara (RH) agar tetap tinggi yaitu sekitar 80% dan suhu udara tetap sejuk sekitar 15 – 25°C.

Pohon okulasi ini dapat ditanam di kebun setelah berumur 8 – 12 bulan. Saat  pemindahan yang baik yaitu pada awal musim hujan.

  1. Sambung Pucuk (Enten).

Tanaman yang digunakan untuk enten adalah tanaman yang sudah berumur 6 – 7 bulan dan maksimal berumur 1 tahun. Tanaman berasal dari biji buah yang telah tua dan masak, dengan tinggi tanaman sekitar 30 cm. Jaringan pada pangkal batang belum berkayu.

Sebagai cabang sambungan digunakan ujung dahan yang masih muda dan berdiameter lebih kurang 0,7 cm. Dahan tersebut dipotong miring sesuai dengan celah yang ada pada tanaman pokok sepanjang lebih kurang 10 cm. Potongan dahan disisipkan ke dalam tanaman pokok kemudian diikat/dibalut.

Bahan yang baik untuk mengikat adalah pita karet, plastik, rafia/kain berlilin. Sebaiknya posisi penyambungan pada tanaman pokok  agak rendah.

Enten-enten yang telah disambung diletakkan di tempat teduh, tidak berangin, dan lembab. Bibit enten perlu dipelihara dengan disiram air setiap hari.

Bibit biasanya sudah dapat dipindahkan ke kebun setelah berumur 9 – 16 bulan, pemindahannya dilakukan pada saat permulaan musim hujan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *